Duga Sarat Rekayasa, Djusman AR Dorong Kepolisian Tuntaskan Kasus Raibnya Uang PDAM

0
625
Penggiat anti korupsi, Djusman AR. PM

PORTALMAKASSAR.COM – Aktivis Penggiat anti korupsi mendorong upaya aparat kepolisian untuk mengungkap kasus raibnya kas Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Makassar senilai Rp1,2 miliar belum lama ini.

Koordinator Fokal NGO Sulsel, Djusman AR menduga adanya keterlibatan oknum yang tidak bertanggung jawab di internal perusahaan yang dipimpin oleh Haris Yasin Limpo, adik kandung Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.

“Dalam rekaman CCTV informasi yang saya peroleh dari penyidik, nampaknya tidak terang wajahnya pelaku. Ibaratnya orang masuk merampok ini sudah tahu di titik-titik yang ada CCTV-nya. Dia masuknya menyamping-menyamping. Patut diduga ada keterlibatan oknum internal, patut diduga itu,” kata, Minggu (30/7) kemarin.

Bahkan dia menduga raibnya uang miliaran rupiah ini adalah bentuk rekayasa terkait penggunaan anggaran perusahaan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Apalagi, kata Djusman yang juga Direktur LP Sibuk Sulsel ini dalam proses pengembangan penyelidikan diduga alat pembukuan keuangan ikut raib. Ditambah lagi terbakarnya Ruang Pengawas Internal (SPI) PDAM, Minggu (30/7) dini hari kemarin.

“Seiring berjalannya proses penyelidikan, kok tiba-tiba ada ruangan terbakar. Bagi kami orang investigasi, yah patut menduga karena sering kali terjadi kejadian begini baik di kabupaten lain. Tidak menutup kemungkinan ada dugaan penggunaan anggaran yang tidak bisa dipertanggung jawabkan secara prinsip keuangan lalu dibuatkan modus operandi dan rekayasa seperti itu,” terang Djusman.

Menurut dia, perkara ini memang sudah menarik perhatian masyarakat secara meluas. Sehingga Djusman selaku penggiat hukum terus menyuarakan kasus ini hingga polisi menemukan tersangka dibalik perampokan brangkas PDAM.

Apalagi dia menilai terbakarnya ruangan SPI merupakan tindakan pidana murni. “Saya akan desak penyidik polres untuk menetapkan tersangka, siapapun dia. Mengingat kejadian pertama adanya gudaan perampokan. Dimana juga sampai sejauh ini kita tidak mempercayai apa yang disampaikan PDAM itu adalah perampokan,” pungkasnya.

Djusman menambahkan, untuk menghormati proses hukum, sudah seharusnya seluruh Badan Pengawas PDAM untuk dinonaktifkan oleh pemilik perusahaan, yakni Walikota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto.

Disamping itu dengan tegas seluruh Direksi PDAM untuk ikut diperiksa dalam kasus ini. Baginya, direksi dan badan pengawas harus dimintai keterangannya dan tidak untuk ditutup-tutupi.

“Mereka harus siap dinonaktifkan demi menghormati proses hukum, termasuk Security. Kasus ini serius, banyak merugikan, inikan aneh. Karena langsung dipastikan uang yang raib itu nilanya Rp1,2 miliar. Saya rasa pak wali sikapnya selalu terbuka untuk mendorong proses hukum ini, kata dia.

Lanjutnya, penyimpanan kas perusahaan dalam aturannya dibenarkan jika nilai maksimalnya Rp40 juta sampai Rp50 juta. Itupun sifatnya momentum ketika ada penggunaan anggaran mendesak.

Sementara Walikota Makassar yang akrab disapa Danny Pomanto dengan tegas meminta kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini seterang-terangnya.

“Proses hukum harus kita hargai. Saya serahkan ke polisi. Untuk proses non aktif saya mau lihat laporan polisinya dulu,” singkatnya.

Sementara, Kepala Bagian Humas PDAM Makassar, Muh Idris Tahir membenarkan jika ruangan internal SPI terbakar kemarin.

Dia menyatakan, kebakaran tersebut tidak sampai mengenai struktur bangunan gedung secara menyeluruh. Lantaran yang terbakar hanya alat elektronik berupa komputer dan sofa. Dokumen atau berkas di ruangan itu diakui tidak ada yang berpindah tempat.

“Dia ruangan satuan pengawas internal, ruangan staf SPI. Terbakar pertama kali diketahui Danru yang mau salat subuh, itu terdengar ketika ada kaca jendela yang pecah. Dia langsung melapor ke pemadam, dengan sigap pemadam memecahkan satu kaca jendela, setelah 15 menit api bisa dipadamkan,” akunya.

Dugaan kebakaran oleh tim teknis PDAM dan petugas pemadam kebakaran disebabkan oleh arus pendek atau korsleting listrik.

“SPI ini bagian yang memeriksa kegiatan operasional kantor. Baik kegiatan harian, pemeriksaan bulanan atas kegiatan yang dilaksanakan. Sofa yang terbakar itu sampai perangkat elektronik hangus bukan terbakar karena panas. Contoh monitor komputer meleleh covernya dan printer yang meleleh sandaran kertasnya itu karena panas,” ujarnya.

Lebih lanjut, terkait dengan raibnya Rp1,2 miliar dia menyerahkan sepenuhnya ke aparat kepolisian.

“Tidak ada berkas hilang. Karena berkas yang ada di dalam brangkas yang ditemukan itu ada semua, cuman terhambur di rumput,” tambahnya. (PM)