Jangan Remehkan Guru

Jangan Remehkan Guru

148
Bachtiar Adnan Kusuma (Ketua Forum Komite Sekolah Makassar)

MENGAPA kita suka meremehkan guru? Bukankah guru adalah panglima pendidikan? Menjawab pertanyaan itu, Kaisar Jepang Hirohito, pertamakali bertanya kepada rakyatnya, berapa banyak guru yang masih hidup tatkala BOM Hiroshima dan Nagasaki menghancurkan Jepang. Adalah Hirohito ingin menunjukkan kepada rakyatnya bahwa Jepang bisa hancur secara fisik, tapi jangan gurunya. Guru sebagai garda terdepan akhirnya menjadikan Jepang sebagai bangsa yang percaya diri dengan terus-menerus melakukan perubahan.

Kalau Kaisar Jepang menempatkan posisi guru sangat penting, mengapa kita masih suka merendahkan guru? Bukankah karena guru kita semua bisa menjadi bangsa yang besar? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul kembali, saat penulis berbicara di depan guru dan guru besar Unhas di Masjid SMA 17, Sabtu 10/6.

Dalam kenyataannya, kita masih saja suka merendahkan guru, apalagi melecehkannya di ruang publik. Celakanya lagi, pernyataan-pernyataan sarkasme tentang guru kadang muncul dari para pejabat publik. Padahal guru adalah profesi yang amat mulia, lagi terhormat.

Karena itu, menempatkan guru di ruang yang terhormat mestinya menjadi sebuah gerakan sosial, ajakan dan seruan menghormati guru. Karenanya, guru sebagai manusia biasa, toh butuh juga penghargaan dan penghormatan dari kita semua. Bukan melecehkan, apalagi merendahkannya.

Di ujung pembicaraan, penulis sangat terkesima salah seorang guru kimia SMA 17, bernama Pak Bahar. Bahar adalah guru senior yang memiliki sejumlah anak ikut nyantri di SMA 17.

Dengan ekonomi yang pas-pasan, Pak Bahar berhasil mendidik anak-anaknya sebagai generasi emas. Putra pertamanya selesai di SMA 17 dan diterima di Fakultas Kedokteran UI, saat ini tengah merampungkan spesialisasinya.

Sementara putra keduanya diterima di ITB Teknik Perkapalan dan disusul anaknya yang ketiga di UNPAD, Bandung. Di ujung dialog, kami sepakat bahwa hanya dengan pendidikan yang baik, bisa menjadi investasi masa depan anak-anak kita.

Bukankah harta, kedudukan dan kekayaan akan dikalahkan dengan pendidikan yang baik. Mendengar cerita tentang succes story mendidik anak-anak ala Pak Bahar, akhirnya penulis menyeruhkan, jangan remehkan guru kita.
Oleh : Bachtiar Adnan Kusuma

(Ketua Forum Komite Sekolah Makassar)

Komentar