Tommy F Awuy : Kritik Film Sebagai Seni Visual

0
156
Workshop Kritik Film
Tommy F Awuy menjabarkan Kritik Film Sebagai Seni Visual dalam Workshop Kritik Film dan Non Kritik Pusbang Film Kemendikbud di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa (5/9/17)

MAKASSAR, PORTALMAKASSAR.COM – Pemerintah melalui Pusat Pengembangan Film, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbang Film Kemendikbud), terus mendorong agar peningkatan kualitas film dan perfilman di Indonesia melalui berbagai kebijakan dan program kegiatan yang mengarah pada peningkatan tersebut.

Realisasi kebijakan pemerintah dalam mendorong peningkatan kualitas film, satu diantara program kebijakan tersebut menggelar Workshop Penulisan Kritik Film dan Artikel Film Non Kritik Apresiasi Film Indonesia 2017, di hotel Aryaduta Makassar, 4-6 September 2017 ini yang di ikuti oleh sekitar 60 peserta dari kalangan Wartawan, penggiat dan Pemerhati film.

Dalam Workshop hari kedua di sesi Teori Teori Kritik yang dibawakan oleh pembicara Tommy F Awuy (Dosen Filsafat UI) membahas secara panjang lebar Kritik Film Sebagai Seni Visual.

Berubahnya media massa menuju industri, menurut Tommy F Awuy pada akhirnya mengurangi ketajaman fakta atau investigasi pada sebuah berita. Utamanya, media massa mementingkan kecepatan berita. Semisal menulis film, maka diperlukan pengetahuan mengenai dasar sebuah film yang bagus, mulai dari teori-teori mengenai proses pembuatan film.

Jadi, kalau mau menulis film yang baik, seorang wartawan harus memiliki pengetahuan atau keilmuan mengenai terjadinya sebuah proses pembuatan film. Penulisan yang baik, harus terbuka pada fakta,” urai Tommy.

Manfaat kritik film ditambahkan Tommy, adalah untuk menyemarakkan geliat perfilman, memberikan penguatan landasan konteks sejarah perfilman serta memicu motivasi dan semangat untuk terus berkarya.

Dalam kritik film secara umum terdapat 5 unsur yang sering ditampilkan yakni objek formal, objek material, narasi, penyutradaraan dan kepentingan. Sebuah kritik tidak harus sama-sama menonjolkan semua unsur tersebut atau perlu memilih salah satu saja darinya untuk menjadi fokus perhatian ” urai dosen IKJ ini. (red2)

Komentar