Anak Gagal Masuk SMA Negeri, Orang Tua Murid Kembali Aksi di Depan Gubernuran Sulsel

0
102
Demo Orangtua murid
Koordinator aksi yang juga ketua Forum Orang Tua Murid, Herman Hafid Nassa saat menggelar Protes di depan Gubernuran, Kamis (7/9/17)

MAKASSAR,PORTALMAKASSAR.COM– Ratusan Orang Tua Murid yang tidak diterima anaknya melanjutkan pendidikan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berstatus negeri kembali melakukan protes di depan Gedung Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumiharjo Makassar, Kamis (7/9).

Koordinator aksi yang juga ketua Forum Orang Tua Murid, Herman Hafid Nassa mendesak Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo untuk turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan saat ini. Dia menilai banyak putra-putri Kota Makassar yang hendak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi namun tidak diterima oleh sekolah yang bersangkutan dengan alasa kursi yang tidak cukup.

Hal ini, lanjut Herman memicu orang tua murid terus melakukan protes. Sebab setelah ditelusuri masih ada ribuan kursi yang masih kosong. “kami ini menuntutu keadilan, kursi yang masih kosong itu mau dikemananakan, sementara masih banyak anak-anak kita yang ingin melanjutkan tingkat pendidikan pada jenjang lebih tinggi,” kata Herman Hafid Nassa saat menggelar unjuk rasa di depan Gedung Gubenrur Sulsel.

Herman menegaskan pihaknya tidak akan perna berhenti menuntut Pemerintah Provinsi Sulsel sebelum ada transparansi soal kursi yang kosong itu, bahkan pihaknya mengancam akan melaporkan polemik ini pada jenjang yang lebih tinggi. “kursi kosong ini tidak boleh dipermainkan, harus di buka, dijelaskan pada publik,” tutur Herman.

Sementara itu, Nadira salah seorang orang tua siswa mengaku kecewa dengan sikap DInas Pendidikan Provinsi Sulsel yang tidak transparansi. Ia mendesak agar Pemerinta Provinsi tidak menutup ruang bagi putra-putri dari masyarakat biasa alias kurang mampu untuk menyekolahkan anaknya pada sekolah negeri.

“Sekolah swasta bukan tidak baik, tapi jika kursi sekolah negeri masih ada, yah harus dipenuhi dulu. Rakyat juga menginginkan anaknya sekolah disana, sama dengan anak jajaran pejabat atau orang yang punya uang,” tuturnya. (hsn/red2)

Komentar