The Urban Middle Class Millineal Dalam Pengembangan Kota Kreatif (Menyambut ICCC ke-3 Makassar)

0
106
Bahrul ulum Ilham, S.Pd,MM Konsultan PLUT KUMKM Sulsel.

SAAT ini era berlakunya paradigma ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based economy). Struktur perekonomian dunia telah mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era pertanian ke era industri dan informasi.

Futurolog Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi.

Kemudian kini memasuki gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.

Berkaitan hal di atas, pemerintah menyadari bahwa ekonomi kreatif adalah harapan bagi ekonomi Indonesia untuk bangkit, bersaing dan meraih keunggulan dalam ekonomi global.

Ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi yang mencakup industri dengan kreativitas sumber daya manusia sebagai aset utama untuk menciptakan nilai tambah ekonomi.

Dalam Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif yang menyebutkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif adalah pengembangan kegiatan ekonomi yang berdasarkan kreativitas, ketrampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif, menurut hemat penulis setidaknya mengacu pada trend masa depan, yaitu masyarakat urban perkotaan, kelas menengah dan generasi millennial atau yang biasa disebut “The Urban Middle Class Millineal”.

Sebagaimana pernah dirilis perusahaan konsultan manajemen global, Boston Consulting Group (BCG) memproyeksikan jumlah kelas menengah (middle class) di Indonesia tumbuh dari 88 juta orang di tahun 2014 dan menjadi 140 juta orang di tahun 2020. Kelas menengah ini akan lebih banyak di perkotaan sebagaimana proyeksi Biro Pusat Statistik (BPS) bahwa di tahun 2020 penduduk kota akan mencapai 56,7%.

Menariknya, lebih dari 35% penduduk Indonesia nantinya adalah penduduk muda yang berusia antara 15-34 tahun yang dikenal juga dengan generasi millineal.

Keberadaan kota-kota saat ini dari beberapa studi menujukkan peran pentingnya sebagai pusat perdagangan dan jasa. Ekonomi kota telah bergeser yang tidak lagi didorong secara dominan oleh kegiatan industri pengolahan, serta makin tumbuhnya industry kreatif. Disisi lain, perkembangan pesat sejumlah sektor bisnis, reformasi kebijakan ekonomi dan politik, serta otonomi daerah turut mendorong pertumbuhan kelompok kelas menengah perkotaan.

Dengan akses pendidikan tinggi dan perkembangan teknologi informasi, kelas menengah makin berjamur dan didomiasi anak muda. Mereka berasal dari pekerja dan eksekutif kantoran, wirausahawan baru, para profesional serta anak-anak muda yang terjun di industri kreatif, yang disebut juga generasi milineal.

Generasi milenial atau millenial generation adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980-an hingga tahun 2000, atau generasi yang hidup di pergantian millennium bersamaan pesatnya era digital.

Generasi milineal memiliki nilai-nilai, dan perilaku yang berbeda dengan generasi pendahulunya antara lain connected, multitasker, tech-savvy, collaborator/ cocreator, social, adventurer, transparent, work-life balance, dan sebagainya.

Dengan trend di atas maka kota-kota dituntut untuk makin adaptif, merespon segala dinamika dengan cepat. Tak kalah pentingnya bagaimana menumbuhkan iklim untuk lahirnya partisipasi warga serta memungkinkan terjadinya pertukaran ide-ide sesama warga. Terutama memfasilitasi penduduk dimana sebagian besar adalah mereka yang berusia produktif dan kreatif.

Karena itu dalam isu ekonomi kreatif ini maka golongan pemuda perlu memperoleh perhatian khusus. Kaum mudalah yang menjadi incaran pemasaran hasil industri (segmen pasar yang potensial).

Segmentasi ini cenderung dikembangkan oleh pasar, sehingga anak muda menjadi suatu subkultur yang berbeda dengan kultur orang dewasa. Hal ini bisa memperbesar gejala “generation gap”.

Posisi pemuda juga strategis dan khas secara budaya dan kondisi fisik serta emosional. Para pemudalah juga yang nanti mengalami persoalan besar sebagai pembayar hutang bangsa, menghadapi globalisasi, pendukung paradigma pembangunan yang baru.

Disisi lain, ekonomi Baru sangat sarat dengan dinamika perubahan yang cepat, aktifitas yang seolah tanpa batas (borderless), dan jaringan yang menjadi pola hubungan keseharian yang menentukan bagaimana proses nilai tambah dilakukan, serta bagaimana keterkaitan dan daya saing dibangun dan dipertahankan.

Terlebih penting lagi sebenarnya adalah bahwa pengetahuan (knowledge) dan inovasi dianggap sebagai pendorong utama (the driving force) bagi ekonoi baru saat ini.

Dengan gambaran di atas pengembangan kota kreatif hedaknya mengoptimalkan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mensinergikan semua komponen atau kolaborasi multipihak.

Model kolaborasi pengembangan kota kreatif setidaknya mengacu pada konsep PENTAHELIX yakni melibatkan lima pelaku utama meliputi A (Academician), B (Business), C (Community), G (Government) dan M (Media).

Akademisi terdiri dari unsur mahasiswa, dosen, peneliti dari berbagai perguruan tinggi. Sektor bisnis melibatkan pengusaha dan asosiasi pengusaha ataupun asosiasi profesi semua bidang. Masyarakat terdiri dari komunitas kreatif, media, lembaga donor, pengrajin, UMKM dan pengusaha mikro serta media lokal.

Perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan dan teknologi (center of exellent) memiliki posisi strategis karena mampu melahirkan inovasi di berbagai bidang. Dunia usaha menyampaikan/memenuhi kebutuhan-kebutuhan untuk mendukung kegiatan dunia usaha Masyarakat secara umum dan komunitas kreatif dalam lingkup kecil dapat memberikan usulan, masukan, dan koreksi terhadap hal-hal yang dibutuhkan dalam pengembangan ekonomi kreatif, serta berperan aktif dalam pelaksanaan pembangunan melalui usaha-usaha swadaya.

Pemerintah, berfungsi sebagai fasilitator dan enabler kepada semua stakeholder yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengendalian kota kreatif. Dan media berperan untuk mensosialisasikan, hadir dengan wacana yang sehat untuk kepentingan publik, mencerahkan dan mencerdaskan.

Semoga perhelatan Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) ke-3 tanggal 6-10 September 2017 di Makassar menjadi pemicu kegiatan kreatif serta hadirnya kota yang mampu menciptakan atmosfir kota yang inspiratif dengan mengedepankan peran partisipasi.

Berbagai wadah dan ruang dihadirkan, apakah melalui event, komunitas atau tempat yang mampu memfasilitasi berbagai golongan maupun individu dapat bertemu, berinteraksi dan saling bertukar informasi dan ide mengenai keadaan kota mereka.

Perlu didorong hadirnya forum kota yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan implementasinya yang sifatnya berkelanjutan, dengan tetap mengacu pada kearifan lokal (local wisdom).

Oleh : Bahrul ulum Ilham, S.Pd,MM
Konsultan PLUT KUMKM Sulsel

 

Komentar