“MARSINAH”, Hitam-Putih Peradilan (Kritik Film Syahriar Tato)

0
182
Marisnah
Marsinah -Cry Justice -

“MARSINAH”, HITAM-PUTIH PERADILAN
Director : Slamet Rahardjo
Writer : Slamet Rahardjo, Tri Rahardjo, Agung Bawantara, Karsono Hadi, Eros Djarot
Stars : Megarita, Dyah Arum, Tosan Wiryawan, Intarti
Genre : Drama

MAKASSAR,PORTALMAKASSAR.COM – “Jika para terdakwa pembunuh Marsinah dinyatakan bebas oleh Mahkamah Agung, lantas siapa pembunuh sebenarnya?” Itulah kalimat ending yang diucapkan pemeran Marsinih, adik Marsinah yang mengomentari kenyataan kabut tebal yang menyelimuti kematian buruh pabrik PT Catur Putra Surya Sidoarjo, Jawa Timur, yang ditemukan tewas 9 Mei 1993 di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk.

Memang, terdakwa pembunuh Marsinah telah disidangkan. Malah, Mutiari telah menjalani hukuman yang divoniskan padanya. Sementara Yudi Astono (Direktur PT CPS Porong), Suwono(Kepala Satpam PT CPS Porong), Ayib (Kabag Produksi), Suprapto (Bagian Kontrol), sempat pula menjalani hukuman yang rata-rata divonis 12 tahun, sebelum pernyataan bebas dikeluarkan MA.

Adapun Mutiari yang malah lebih dulu ‘divonis’ oleh media massa sebagai pesakitan yang bersalah, takkan mampu melupakan “kisah tragisnya”, dituding sebagai bagian dari pembunuhan yang keji.

Dan kisah hidup Mutiari inilah yang ditampilkan sutradara Slamet Rahardjo pada film”Marsinah (Cry Justice)“. Naskah yang digarap Slamet secara bareng-bareng dengan Eros Djarot, Karsono Hadi, Agung Bawantara, dan Tri Rahardjo, memberi tawaran terhadap buruknya sistem peradilan dan kekuasaan negeri ini di era Orde Baru. Apalagi, hingga kini, misteri pembunuh, Marsinah, masih tetap terselubung.

Digarap ala film dokumenter, Marsinah (Cry Justice) menceritakan upaya Hari Sarwano (Toshan Wiryawan) yang mencari isterinya, Mutiari (Diah Arum) yang hilang sejak awal Oktober 1993, setelah beberapa hari sebelum diperiksa oleh polisi. Teman-teman kerja Mutiari yang ingin dikonfirmasi, ternyata juga raib.

Ke mana mereka menghilang? Pun Hari tak menemukan jawaban.

Sementara ayahnya meminta ia menceraikan isterinya yang dianggap pembunuh itu, walau sedang hamil.

Ternyata, Mutiari dan kawan-kawannya yang dijemput oleh orang-orang tak dikenal, disekap di kantor Kodim. la didera siksaan Psikologis. Teman-temannya disiksa secara fisik. Dijadikan “hiburan“bagi tentara. Mereka dipaksa merancang pembunuhan pada Marsinah.

Kok mengapa tentara yang menyidiknya?

Hitam-putih peradilan Indonesia yang cenderung abu-abu itu pun dibuka secara transparan. Sangat telanjang. Penangkapan yang tidak prosedural, sebab dilakukan secara pencidukan dan penculikan. Surat penangkapan diberikan pada keluarga setelah 19 hari menghilangnya mereka.

Polisi “Ikhlas” melanjutkan penyidikan setelah diserahkan oleh tentara. Jaksa penuntut umum begitu arogan mengajukan mereka ke meja hijau.Hakim pun tak peduli saran dan kegelisahan pembela atas adanya berbagai kejanggalan pada para saksi.

Tanpa sungkan-sungkan, siksaan yang menerpa Mutiari diperlihatkan, termasuk saat mengalami pendarahan dan keguguran. la nyaris gila. Adapun suaminya, menuntut akan mempraperadilankan kepolisian. Tapi,upayanya kandas. Polisi lebih cepat menjadikan Mutiari sebagai tersangka yang awalnya Cuma saksi -mendahului sidang bagi terdakwa pembunuh langsung.

Adapun kehidupan Marsinah berusia 23 tahun yang dianggap bandel itu, juga diperlihatkan. Pejuang nasib buruh itu tampak gigih mengurusi nasib kawan-kawannya, apalagi ketika dituding sebagai PH. Padahal,awalnya ia bersama 17 kawannya hanya memperjuangkan kenaikan upah pokok, pada 4 Mei 1993, dari Rp. 1.700 per hari menjadi Rp. 2.250. Nilai Rp. 550 itulah yang diperjuangkan Marsinah dan mengantarnya ke kematian yang misterius.

Siapa pembunuh Marsinah? Teka-teki itu tak terjawab,tapi dapat dirasakan keberadaannya sejak lama. Apalagi bila melihat sajian film yang musiknya diarsiteki oleh Djaduk Ferianto ini.

Adakah akibat gertakan Marsinah untuk membeberkan rahasia perusahaan yang tak terungkap itu?

Rahasia Apa?

Adakah pembuatan arloji bermerek yang dibuat secara illegal? Tak jelas.

Menilik sajian film semi dokumenter ini, mengingatkan kita pada film “JFK”. Di mana teka-teki kematian John F. Kennedy masih misterius, sebab hanya menjadikan Lee Oswald sebagai tertuduh lalu dibunuh sebelum diadili.

Namun lewat “JFK”, bisa terasa adanya konspirasi tingkat tinggi dari Pentagon untuk membunuh presidennya. Pun bila mencari cela pada “Marsinah”,hanyalah ketidaktelitian pencatat skrip ketika tiga Polisi membawa suami Mutiari menemui isterinya.

Dua diantaranya memakai jaket. Tapi ketika masuk sel tahanan, tak ada yang memakai jaket. Secara logika, menghadap pemimpinnya saja memakai jaket, boro-boro melepas ketika harus menemui tahanan.

Yang pasti, film ini mengingatkan kita pada banyak hal, termasuk ketika Sentong dan Karta dinyatakan bebas oleh MA setelah dihukum bertahan-tahun. Juga, teringat akan nasib Nursalam Pessy di Makassar yang sempat akan mempraperadilankan nasibnya yang dituding sebagai pembunuh, tapi nyata-nyata malah divonis penjara seumur hidup. Nasib! Ya, nasib peradilan kita yang tak jelas di mana letak nilai keadilannya.

Syahriar Tato
H.Syahriar Tato

(Syahriar Tato : Anggota PARFI Sulsel, Serikat Kritikus Film Sulsel)

Komentar