Sejarah Islam Rohingya di Myanmar (1)

0
84
Ahmad M. Sewang

TULISAN ini dikutip dari Nurfitri Hadi www.KisahMuslim.com yang dinarasikan kembali tanpa mengubah jalannya kisah. Myanmar adalah salah satu negara terletak di Asia Tenggara.

Sama seperti Indonesia, negara ini juga merupakan anggota ASEAN. Kolonial Inggris menyebut mereka orang-orang Arakan yang bermukim di barat daya wilayah Myanmar, berbatasan dengan Teluk Benggala dan wilayah Bangladesh.

Penduduk Myanmar sekitar 50 juta orang. 5,4 % dari jumlah tersebut adalah muslim yang mayoritasnya adalah orang-orang Arakan. Sejarawan mencatat, umat Islam tiba di wilayah Arakan bertepatan dengan masa Daulah Abbasiyah di bawah kepemimpinan Khalifah Harun al-Rasyid, kaum muslimin tiba di wilayah tersebut melalui jalur damai atau perdagangan.

Umat Islam terkonsentrasi di suatu wilayah dan mendirikan sebuah kerajaan Islam. Kerajaan tersebut berlangsung selama 3,5 abad, dipimpin 48 raja antara tahun 1430–1784 M. Banyak legacy peninggalan Islam di wilayah tersebut, seperti masjid dan madrasah. Di antara masjid paling terkenal adalah Masjid Badr di Arakan dan Masjid Sindi Khan yang dibangun tahun 1430 M.

Pada tahun 1784 M, Arakan diserang raja Budha dari suku Birma, bernama Bodawpaya. Kemudian ia menggabungkan wilayah Arakan ke dalam wilayahnya, agar Islam tidak berkembang di wilayah tersebut. Sejak saat itu bencana umat Islam Arakan mulai terjadi.

Peninggalan-peninggalan Islam, masjid dan madrasah, dihancurkan. Budha dari suku Birma terus-menerus mengintimidasi kaum muslimin dan menjarah hak milik mereka. Keadaan tersebut terus berlangsung selama 40 tahun. Sampai akhirnya berhenti dengan kedatangan kolonial Inggris.

Pada tahun 1937 M, Inggris memisahkan Burma dan wilayah Arakan dari wilayah kekuasaannya di India. Maka Burma menjadi wilayah kerajaan Inggris tersendiri yang bernama Burma Britania. Tahun 1942 M, bencana besar menimpa kaum muslimin Rohingya. Orang-orang Budha Magh membantai mereka dengan dukungan senjata dan materi.

Lebih 100.000 muslim pun tewas dalam peristiwa itu. Sebagian besar mereka adalah wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya melarikan diri dari Burma. Pada tahun 1947 M, Burma mempersiapkan deklarasi kemerdekaan. Semua suku diundang dalam persiapan tersebut, kecuali umat Islam Rohingya.

Pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris memerdekakan Burma secara penuh disertai persyaratan masing-masing suku bisa memerdekakan diri dari Burma apabila mereka menginginkannya.

Namun suku Birma, tetap menguasai wilayah Arakan dan tidak mendengarkan suara masyarakat muslim Rohingya dan Budha Magh yang ingin merdeka. Mereka pun melanjutkan intimidasi terhadap kaum muslimin.

Kesimpulan
Etnis Rohingya yang beragama Islam telah ada di Myanmar sejak abad ke-8 M. Mereka telah mendirikan sebuah kerajaan selama 3,5 abad, dipimpin 48 raja antara tahun 1430–1784 M. Tidak mengakui mereka sebagai warga negara adalah pelanggaran terhadap kemanusiaan.

Bahkan pengusiran, marjinalisasi, dan pembunuhan terhadap mereka adalah sama dengan tindakan pembersihan etnis sebuah pelanggaran pada hak-hak asasi manusia.

Wassalam,
Makassar, 10 September 2017

Oleh: Ahmad M. Sewang

Komentar