Film : We Were Soldiers

0
108
We Were Soldiers
Salah satu adegan Film We Were soldiers

Judul : WE WERE SOLDIERS
Pemain : Mel Gibson, Madeleine Stowe, Greg Kenner, Sam Elliot
Musik : Nick Glennie Smith
Naskah/Sutradara : Randal Wallace

MAKASSAR,PORTALMAKASSAR.COM – Ternyata, takut warna bisa membuat orang menjadi kejam, sadis dan bertindak di luar batas kemanusiaan.Takut “warna merah’ misalnya, yang salah satu wujudnya adalah Perang Vietnam. Disana, beribu-ribu orang mati, disiksa, hilang, cacat, sakit jiwa, karena sesuatu yang oleh Noam Chomsky disebut “a hysterical Red Scare”.

We Were Soldiers garapan Randall Wallace yang diputar di bioskop-bioskop merupakan tontonan yang juga mengangkat tema tersebut. Hanya saja, film yang diangkat dari buku “We Were Soldiers Once and Young” karya bersama pensiunan Letnan Jenderal Harold G. Moore dan jurnalis Joseph L. Gallowt, itu lebih banyak mengeksplorasi sisi-sisi manusiawi seorang komandan dalam memimpin anak-anak buahnya ke “medan pembantaian”.

syahriar Tato
Syahriar Tato, Ketua Parfi Pengda Sulsel

Bermula dari dibantai habisnya satu kesatuan kavaleri Perancis oleh gerilyawan Viet Kong di bawah komando Letnan Nguyen An pada 1954. Amerika Serikat, yang kemudian melibatkan diri dalam perang tersebut, membentuk sebuah resimen kavaleri udara yang mengganti kuda dengan helikopter sebagai eksperimen untuk menghadapi gerilyawan Viet Kong. Letnan Kolonel Hal Moorejebolan Harvard dengan segudang pengalaman tempur ditunjuk untuk memimpin resimen tersebut.

Dengan dibayang-bayangi kekhawatiran mengalami pembantaian seperti yang pernah dialami pasukan Perancis, Hal Moore kemudian memimpin dan kemudian diterjunkan bersama anak buahnya ke medan tempur yang dikenal dengan nama “Lembah Bayang Kematian” tanpa tahu berapa jumlah musuh yang harus dihadapi.

Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Hal Moorehanya punya 395 pasukan itupun akan diterjunkan ke medan perang dalam Beberapa gelombang. Sementara musuh yang harus dihadapi belakangan diketahui berjumlah 4000 orang. Padahal dia telah bersumpah untuk membawa sebanyak mungkin pasukannya pulang dari medan pertempuran.

Film ini tidak cuma bercerita kejadian di medan perang. Digambarkan pula bagaimana perasaan cemas isteri yang setiap kali dicekam rasa takut melihat kedatangan taksi yang membawa telegram kematian orang yang mereka cintai, Bagaimana Julie, isteri Hal Moore, terpaksa mengambi lalih tugas tukang taksi untuk mengantarkan telegram ke rumah orang yang tewas di bawah pimpinan suaminya. Bagaimana dia sendiri terus menerus mengatasi ketakutan-ketakutannya.

Secara umum, film ini penuh dengan dialog yang sangat menyentuh rasa kemanusiaan. Baik yang dilakukan di medan perang, maupun yang terjadi jauh di garis belakang pertempuran di rumah-rumah mereka yang sedang bertempur. Selain kuat dari segi dialog, We Were Soldiers juga didukung dengan permainan yang sangat menawan Mel Gibson (Hal Moore), MadeleineStowe (Julie Moore), serta Sam Elliot yang memerankan Joe Galloway (wartawan perang yang mencoba memahami arti sebuah perang).

Ditambah lagi dengan dukungan musik yang digarap dengan begitu manis oleh Nick Smith. Iringan musik bertempo lambat dengan lirik lagu yang sangat menggugah mampu mengurangi kesan kekerasan yang timbul dari film ini. Dapat dikatakan Nick Smith telah membuat sebuah komposisi music perang dengan wanna berbeda. Bukan musik yang penuh “semangat”(membunuh) akan tetapi justru membuat orang untuk terhenyak diam (merenung).

Apalagi Randall Wallace yang menggunakan teknik gambar slow motion pada adegan-adegan mengerikan, memaksa orang untuk menahan nafas. Berhenti sejenak. Berpikir. Demikian pula dengan gambar-gambar fotografis yang ditampilkan sebagai background yang terpadu bagaikan dialog tersendiri yang sulit diwakili dengan kata-kata. Sementara narasi yang disisipkan semakin menguatkan kesan film ini sebagai kisah nyata. Bukan hasil isapan jempol.

Namun, setelah sekian banyak film ber-setting Vietnam dibuat, Hollywood ternyata masih terus memproduksi film-film seperti itu. Apakah itu pertanda Amerika yang selama ini sangat membanggakan diri sebagai super hero terus dikejar rasa penasaran karena telah begitu dipermalukan di Vietnam? Ataukah sekedar sebagai semacam refleksi, kritik diri betapa sia-sianya membangun kekuatan berdasarkan ketakutan-ketakutan?

Kini, setelah kebanggaan Amerika kembali dipermalukan di kandang sendiri dengan runtuhnya gedung World Trade Center yang menjadi simbol dominasi kemakmuran mereka akankah muncul phobia baru? Yang pasti, setelah peristiwa 11 September 2001 itu, tampaknya tanda-tanda ke arah itu mulai terasa. Afghanistan bisa jadi baru permulaan. Seterusnya ? Awas terorisme!

Bagaimanapun juga, terlepas dari ada tidaknya propaganda Amerikanisme, We Were Soldiers layak jadi tontonan.

(Syahriar Tato :Ketua umum Parfi Sulsel, Serikat Kritikus Film )

Komentar