Sejarah Islam Rohingya di Myanmar (3)

0
58
Prof Dr H Ahmad M Sewang MA. (dok.uin)

SEBELUMNYA saya copy paste komentar Prof. Qasim.

1. “Sejarawan mencatat, ummat Islam tiba di wilayah Arakan bertepatan dengan masa Daulah Abbasiyah…”, kutipan dari tulisan di atas, tidak menjelaskan dari mana *asal* ummat Islam yang tiba di wilayah Arakan tsb. Sebab, kalau dari luar Arakan, Birma, itu berarti muslim Rohongya itu *bukan asli* suku/bangsa Birma?
Sayang penulis sejarah tsb tdk.” menjelaskan hal itu.

2. Kisah sejarah seringkali hanya melihat kejadian di atas tanah, sangat jarang meninjau yg di dalam tanah tempat sejarah terjadi. Sejarah (history) juga beda dg story (cerita).

Karenanya, sejarah Rohingya ditulis seperti tulisan ttg kejadian di wilayah Arab (ttg kekejaman Israel, penderitaan Pelastina, Alqaeda, ISIS, pr tokoh pelakon dan masa berlangsungnya sejarah). Yang lupa diceritakan adalah cerita ttg *kandungan tanah* Arab dan Rohingya/Rakhine yang membuat pr tokoh dan bgs2 besar terlibat membuat sejarah di atas tanah itu. Bukankah ada cerita, bukan sejarah, ttg *sesuatu yg amat mahal* di dalam tanah Arab dan Rohingya? QM

 

Terima kasih atas sifat kritis Prof. Qasim. Dengan sikap kritis Ilmu mengalami perkembangan. Komentar Prof. Qasim membuat saya harus mengingat kembali pelajaran sejarah antropologi untuk menelusuri lorong asal usul suatu bangsa. Walau menghindari banyak teori yang juga nantinys berujung pada kesimpulan berbeda-beda. Bahkan semakin jauh ke belakang bisa mumcul pertanyaan baru yang lebih membingunkan, “Apa benar ada penduduk asli di bumi ini?”

Menelusuri asal-usul suatu bangsa tidak sekedar membutuhkan bidang ilmu sejarah dan antropologi, akan tetapi termasuk ke dalam ranah ilmu genetika, arkeologi dan lingguistik. Pada awalnya, penelurusuran hanya didasarkan pada bukti-bukti arkeologi dan pola penuturan bahasa.

Temuan terbaru cukup mengejutkan karena mengubah keseluruhan fakta masa lalu. Berdasarkan kajian mendalam atas kebudayaan megalitik di Asia Tenggara dan beberapa wilayah di bagian Pasifik disimpulkan bahwa pada masa lampau telah terjadi perpindahan (migrasi) secara bergelombang dari Asia sebelah Utara menuju Asia bagian Selatan.

Mereka ini kemudian mendiami wilayah berupa pulau-pulau yang terbentang dari Madagaskar (Afrika) sampai dengan Pulau Paskah (Chili), Taiwan, dan Selandia Baru yang selanjutnya wilayah tersebut dinamakan wilayah berkebudayaan Austronesia.

Teori mengenai kebudayaan Austronesia dan neolitikum inilah yang sangat populer di kalangan antropolog untuk menjelaskan misteri migrasi bangsa-bangsa di masa neolitikum, 2000 SM hingga 200 SM. (Teori von Heine Geldern).

Agar kita tidak terlalu jauh ke belakang yang bisa membuat tambah bingun, lebih baik masuk ke pokok persoalan bahwa Islam masuk ke Myanmar sejak abad ke 8 M hampir bersamaan dengan Islam di Nusantara.

Mereka kemudian berinteraksi dengan penduduk setempat bahkan melalui kawin mawin, Islam diterima sebagian penduduk sebagai agama baru bagi mereka. Penduduk Rohingya berdasarkan sensus 2014, yang beragama Islam hanys 4.5% dari populasi penduduk 50 juta jiwa. Jadi muslim di Rohingya bukan hanya pendatang, tetapi sebagian penduduk setempat.

Persoalan masyarakat Rohingya bukan masalah penduduk asli seperti yang ditanyakan. Persoalan sesungguhnya adalah pengakuan terhadap kewarganegaraan etnik Rohingya. Pengakuan sebagai warga negara bisa membawa solusi permanen sekaligus turut menghapus sikap diskriminatif terhadap mereka.

Persyaratan jadi warga negara tidaklah sesulit seperti diperkirakan, tergantung political will dari pemerintah Myanmar. Jika dibanding persyaratan di Indonesia yang mengenal hanya kewarganegaraan tunggal.

Salah satu persyaratannya adalah “Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut. Bandingkan dengan etnis Rohingya yang sudah berabad tinggal di Arakan. Inilah yang disebut warga negara tanpa kewarganegaraa (Stateless).

Komentar kedua bahwa penulisan sejarah memang lebih mementingkan kronologis untuk mengetahi perubahan yang terjadi dari masa ke masa. Sejarah adalah ilmu perubahan. Sejarah memang terkadang tidak jauh mendalami, seperti istilah Prof. Qasim, ilmu di bawah tanah. Penulisan sejarah suatu bangsa tergantung pada kepentingan sejarawan dan ruang tersedia.

Karena itu sifat kedalaman sebuah tulisan sangat dipengaruhi banyak faktor. Dalam hal tertentu ditulid secara global nanti pembaca mengembangkan lebih jauh, seperti dalam tulisan saya menyebut secara umum, “Di Rohingne terdapat kepentingan politik ekonomi oleh negara besar yang bermain.

“Saya tidak mengelaborasinya karena menganggap sudah menjadi pengetahuan populer dan keterbatasan ruang. Faktor lain yang membuat tulisan tidak meramba jauh di bawah tanah adalah keterbatasan seorang ilmuwan, seperti saya.

Dengan memahami hal tersebut, saya berpandangan, “Tidaklah bijak menyalahkan secara umum sejarawan sementara sejarawan itu sebdiri memiliki tujuan, perhatian, dan juga kedalaman ilmu yang bervariasi.” Sekalipun telah kuhabiskan sebagian waktuk untuk belajar saya masih memiliki keterbatasan bahkan semakin banyak saya tahu, semakin banyak saya tidalk tahu.

Tetapi, apa yang saya tahu dalam keterbatasan itu, saya berusaha men-Share-nya sekaligus memasang telinga mendengar pendapat orang lebih paham seperti dari Prof. Qasim. Dengan demikian, saya sangat menghargai jika Prof. Qasim juga ikut menuliskannya dan itulah ilmuwan sejati.

Semoga semua jadi amal jariah. Sebelum terlambat, saya mohon maaf jika terlambat merespon tulisan Prof. Qasim karena saya fokus pada launching buku Autobiografi saya besok.

Makassar, 12 September 2017
Wassalam

(Menjawab Komentar Prof. Qasim)
Oleh: Ahmad M. Sewang

Komentar