Film : Brotherhood of the Wolf

0
72
Brotherhood of the Wolf
Film : Brotherhood of the Wolf

Judul : Brotherhood of the Wolf

Pemain : Samuelle Bihan, Mark Dacascos, Monica Belucci, Emillie Dequenne, Jeremie Reiner,Vincent Cassel

Skenario : Stephane Cabel

Sutradara : Christophe Gans

MAKASSAR,PORTALMAKASSAR.COM – Hijrah adalah jalan terbaik bagi manusia bila di suatu tempat, merasa tak mampu berbuat apa-apalagi. Namun, jika keberadaannya dianggap membahayakan posisi politis bagi orang lain, tentulah tidak akan mulus di negeri orang.

Hal tersebut, tampaknya tidak jauh beda dengar keberhasilan para pendatang di Ambon, Poso, Papua dan Sambas, Sampit, serta tanah rusuh lainnya. Sebab, awal dari pertikaian adalah kedengkian atas keberhasilan pendatang.

Pergesekan antara pendatang dengan si pemilik tanah kelahiran, nampaknya bukan cerita baru bagi setiap daerah di belahan bumi ini. Apalagi jika keberhasilan si pendatang tidak lagi sekedar di bidang perekonomian saja, tapi juga kekuasaan. Maka saat-saat itulah, pertikaian tidak bisa dihindari dan cenderung menjadi penghancuran horizontal. Dia tak peduli, berapa jumlah rakyat tewas sia-sia. Sebab, yang utama adalah ambisi politik yang ujungnya kekuasaan.

Walau tak berhubungan dengan tanah-tanah konflik dinegeri Indonesia, alur cerita yang ditawarkan film “Brotherhood of the Wolf” yang diproduksi Studio Coral, merupakan implikasi dari kisah nyata yang selalu terjadi di daerah konflik. Adapun soal ribuan nyawa melayang. Para ambisius yang avonturir itu, tak peduli.

Sebab, baginya tujuan atas kekuasaan yang menjadi obsesinya dapat terwujud, walau dengan beragam alasan dan latar belakang. Dan paling mudah adalah menuding kambing hitam, termasuk menuding serigala sebagai biang keladi.

Diceritakan, munculnya serigala siluman di kawasan pedalaman Gevadon Perancis di tahun 1766. Di kawasan terpencil dan terisolasi hutan belukar dan perbukitan itu, tiba-tiba terkoyak dan menjadi kawasan menakutkan dengan munculnya monster serigala yang luar biasa ganasnya. Pun korban berjatuhan dan ratusan penduduk mati terkoyak. Anehnya, korban rata-rata wanita dan anak-anak saja, dan di tubuh korban ditemukan serpihan logam yang mirip taring serigala.

Penduduk Gevadon dicekam teror dan tahyul bahwa siluman itu adalah utusan Tuhan untuk memperingati raja yang dianggap membangkang terhadap gereja Roma. Untuk itu, ilmuwan kerajaan Gregoire de Fronsac (Samuel le Bihan) ditugasi Raja Louis XV untuk mengusut teror serigala siluman yang telah membantai tidak kurang dari 123 wanita dan anak-anak. Disamping itu, raja juga menyiapkan hadiah bagi siapa saja yang dapat membunuh serigala siluman itu. Hasilnya, ratusan serigala “tak berdosa” yang bermukim di kawasan hutan Gevadon terbunuh oleh pemburu dan kesatria yang tergiur oleh tingginya hadiah yang dijanjikan oleh Raja Perancis itu.

Fronsac dalam menjalankan misinya, disertai saudara angkatnya, Mani (Mark Dacascos), pemuda Indian Amerika yang ahli kungfu Cina. Dan ketika Fronsac bertualang dan berperang melawan Inggris di daratan Amerika, ia hampir tewas kalau saja ia tidak ditolong oleh Mani. Pemuda yang tidak bicara ini adalah satu-satunya yang hidup dari komunitas suku Iroquoi yang telah ditumpas oleh pasukan Perancis.

Kedatangan Fronsac dan Mani di Gevadon disambut oleh bangsawan muda Marquis Thomas d Apcher (Jeremie Renier) di purinya. Marquislah yang membantu Fronsac untuk mengungkap kasus serigala siluman. Dari mayat-mayat korban serigala siluman itu ditemukan keganjilan dan ketidaklogisan, seperti sulitnya memperkirakan besarnya monster dan apakah mungkin terbuat dari logam atau sebagian zatnya terbuat dari logam karena ditemukan serpihan-serpihan logam pada setiap korbannya itu.

Ketika kasus ini belum lagi terungkap, Raja Louis menugasi Beauteme, kesatria kerajaan kepercayaannya untuk menggantikan Fronsac yang ditarik kembali karena dianggap gagal. Dan dalam waktu singkat, kesatria mengumumkan bahwa ia telah berhasil membunuh sang serigala dan”menutup” kasus serigala siluman ini. Padahal, menurut Fronsac, yang dibunuh Beauteme adalah serigala biasa.

Pada musim panas berikutnya, Fronsac dan Mani kembali ke Gevadon dengan dua alasan, yaitu mengungkap tuntas mengenai serigala siluman dan kembali menemui gadis pujaannya Marianne Monangiis (Emilie Dequenne). Ternyata di balik kasus monster serigala ini tersembunyi intrik keji yang didalangi oleh tokoh-tokoh penguasa lokal yang dimotori oleh Jean-Francois de Morangias(Vincent Cassel), Kakak Marianne yang sejak kedatangan Fronsac merasa tidak senang. Namun misi Fronsac itu berhasil mengungkap kasus ini karena dibantu oleh utusan Roma, Sylvia (Monica Bellucci) yang juga jatuh hati pada Fronsac.

Nah! Haruskah negeri ini mendatangkan”Fronsac” dan “Sylvia” untuk mengusut kerusuhan yang sepertinya tak mengenai kata henti. Toh, masyarakat di daerah rusuh, sudah lama bosan bertikai.

(Syahriar Tato : Ketua Parfi Pengda Sulsel, Serikat Krikus Film)

Komentar