Sebuah Catatan dari Belanda: Lorong Dunia Itu di Makassar

Sebuah Catatan dari Belanda: Lorong Dunia Itu di Makassar

39
Penulis, Sakka Pati saat mengunjungi lorong di Belanda. Berbeda dengan lorong di Makassar yang ada nilai sombere' nya dari masyarakat.

INI bukan tentang Belanda yang di belakang Daya, tapi Belanda yang terkenal sebagai negara kincir angin.

Dikenal juga dengan nama Nederland atau “Negara Rendah” karena wilayahnya lebih rendah dari lautan.

Tiga hari menyusuri beberapa tempat di Amsterdam, Leiden, Denhaag dan sebuah kota kecil Amstelveen memberi kesan bahwa negara ini memang layak menjadi tujuan wisata.

Meski sebelum berangkat sudah disampaikan bahwa modal utama untuk menikmati wisata adalah harus kuat jalan kaki, khususnya di beberapa wisata kanal dan kota tua.

Saya berpikir dengan aktifitas di Makassar yang keluar masuk lorong cukuplah jadi modal ditambah semangat mau membandingkan lorong-lorong di Makassar dengan di Belanda.

Teman-teman rombongan student exchange Unhas dipimpin WR 3 yang terdiri dari beberapa dosen dan mahasiswa yang berprestasi sangat antusias dan menikmati perjalanan.

Dengan bercanda saya mengatakan tujuan utama ke sini mau membandingkan lorong-lorong di Makassar dengan di Belanda, sehingga setiap sudut yang dikunjungi dan ada lorongnya mereka ramai-ramai teriak, ibu… di sini lorong fotoki.

Lorong di Makassar. (WA/IST)

Di sela- sela bangunan tua, kokoh, unik, dan indah di situlah ada lorong. Tidak ada lorong yang terlalu panjang dan berliku, tapi lorong yg ada rata- rata lebarnya 2 sampai 3 meter dan paling panjang 100 meter, jadi sebenarnya sama dengan jalan utama, yang membedakan hanyalah lorong itu menjadi perantara bangunan.

Jika menyusuri lebih dalam maka tampak lorongnya tidaklah sebersih di jalan utama. Dan pastinya tidak ada pohon-pohonan, bunga-bungaan, apotik hidup, mural di dinding-dinding tembok, apalagi pohon cabe.

Seorang mahasiswa yang menemani nyeletuk, ibu,¬†lebih bersih dan lebih hijau lorongta di Makassar di’
Saya tersenyum sambil membayangkan lorong garden dan lorong BULo yang saban hari saya kunjungi.

Keramaian  warga lorong tentu tidak didapatkan juga, beda dengan warga lorong di Makassar yang selalu gotong royong, silaturahim dan sombere ketika ada tamu/wisatawan yang berkunjung.

Lorong di Makassar. (Dok. Sakka Pati)

Justru pesan dari travel leader untuk selalu hati-hati terhadap orang-orang yang seolah ramah tapi biasanya berniat jahat, untunglah rombongan kami cukup besar, jadi hiruk pikuk kebersamaan kami nikmati sambil foto sana sini.

Tapi satu hal juga diingatkan adik-adik IKA Unhas yang lagi study di Belanda untuk tidak foto-foto di tempat yang bukan area wisata, karena itu bisa jadi masalah. Saya berpikir mungkin ini terkait  privasi yg tidak mau diganggu. Saat menginap di rumah ketua IKA Unhas Belanda di Amstelveen, bayangan saya mirip di kompleks panakukang mas, tidak tampak penghuni tapi berjejeran mobil-mobil di depan rumah, pastinya tidak ada namanya bertetangga dan kerja bakti.

Hari kedua nginap hotel di Denhaag, suasana tetap sepi tenang dan tidak banyak kendaraan lalu lalang. Tapi tampak pemandangan cukup mengganggu karena kanal yang ada di depan hotel tdk sebersih kanal yg tempat-tempat wisata.

Tanaman yang ditanam warga di dalam lorong di Makassar.

Bisa jadi ini bagian dari tidak bisa ambil gambar sembarangan.
Tiga hari pertama di Belanda menyimpan kesan yang cukup indah dan nyaman berwisata namun hal yang tidak saya temukan adalah sifat “sombere” Makassar.

Saya berharap kenyamanan, keindahan dan ketenangan bisa terwujud di Makassar. Ditambah lorong-lorong yang indah, hijau, ramai, dan berwarna warni, apalagi jika ditambah suasana yang Sombere pasti akan menjadikan Makassar kota Dunia yang Nyaman untuk Semua. Semoga..!!!

Pengirim: Sakka Pati, Melaporkan dari Belanda

Komentar