Pengamat Acungi Jempol Keberanian IYL-Cakka dan DIAmi di Jalur Independen

Pengamat Acungi Jempol Keberanian IYL-Cakka dan DIAmi di Jalur Independen

65
IYL-Cakka
IYL-Cakka memilih jalur perseorangan dalam Pilgub Sulsel 2018

PORTALMAKASSAR.com – Pilgub dan Pilkada 13 kabupaten/kota di Sulsel 2018 mendatang, mencetak sejarah baru. Pasalnya ini merupakan kali pertama ada pasangan cagub dan cawagub yang maju lewat independen, yakni Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka).

Selain itu, petahana Makassar AMPG Ramdhan “Danny” Pomanto-Indira Mulyasari (DIAmi), juga memastikan maju lewat jalur independen.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Adi Suryadi Culla mengatakan, jalur independen memiliki kelebihan tersendiri pada hajatan politik, apalagi jika disokong dukungan partai politik.

Dia menjelaskan bahwa bukti dukungan rakyat ke pasangan calon adalah suara ril di lapangan. Begitu juga dengan sebaran dukungan di setiap daerah. Modal bukti dukungan tersebut, kata dia, akan akan menjadi rujukan untuk menjajaki kantong suara dan potensi wilayah untuk menggarap suara.

“Memang kalau melihat bukti dukungan ril sebagai modal suara. Suara yang diprediksi akan diperoleh, calon independen itu memiliki kelebihan, karena ada modal dukungan politik yang dimiliki,” kata Adi, sapaan akrabnya, pada Kamis (30/11/2017).

Apalagi, saat ini, syarat perseorangan jauh lebih berat dari periode sebelumnya, khususnya jumlah numerik minimal bukti dukungan yang jauh lebih besar. “Itu kan menunjukan bahwa calon independen itu ada dukungan ril pemilik suara,” tuturnya.

Sehingga, pasangan calon independen bisa mengukur basis dukungan, begitu juga kantong suara yang efektif digarap. “Itu juga menjadi kekuatan yang ril bagi calon yang bersangkutan,” kata dia.

Dijelaskan pula, tidak mudah menjadi calon independen, dengan mengumpul bukti dukungan butuh waktu dan tenaga, begitu juga dengan pengawalan verifikasi administrasi dan faktual yang konsolidasi politik dan militansi tim.

“Itu saya mengangkat jempol lah ke IYL-Cakka. Dan itu kan reputasi yang tidak dimiliki di daerah lain selama Pilkada juga kan, apalagi ini tingkat Provinsi, kan kalau Kabupaten/Kota sudah banyak. Saya kira ini instrumen politik yang patut diangkat sebagai study kasus yang menarik,” tandasnya.

Hal senada dikatakan oleh Direktur Epicentrum Politica (EP), Iin Fitriani. Menurutnya bukti dukungan bisa menjadi salah satu referensi yang efektif untuk menganalisa potensi suara. Baik itu basis lawan maupun basis pendukung pasangan calon bersangkutan.

“Ini adalah salah satu referensi, tentu saja efektif sebagi bahan perbandingan strategi untuk mengupdate kantong suara,” tuturnya.

Dia mengatakan, jika dikelolah dengan baik. Data bukti dukungan rakyat ini akan menjadi medium antara untuk bertahan dipuncak kemenangan. “Itu bisa menjadi modal awal yang jika dikelola dengan baik, hasilnya bisa sesuai harapan,” tandasnya.(red2 )

Komentar