Pangdam XIV Hasanuddin Ajak Mahasiswa Unismuh Perangi Ancaman Nirmiliter

Pangdam XIV Hasanuddin Ajak Mahasiswa Unismuh Perangi Ancaman Nirmiliter

32
Pangdam XIV Hasanuddin
Pangdam XIV Hasanuddin Ajak Mahasiswa Unismuh Perangi Ancaman Nirmiliter

PORTALMAKASSAR.com– Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Agus Surya Bakti mengajak Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, memerangi ancaman non militer atau nirmiliter yang memiliki karakteristik berbeda dengan ancaman militer.

“Ancaman nirmiliter itu tidak bersifat fisik. Dan bentuknya tidak terlihat di era global dan terbuka saat ini. Karena ancaman ini berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, informasi dan keselamatan umum,” kata Agus Surya Bakti dihadapan peserta Kuliah Luar MK. Polhankammahasiswa Fisipol Unismuh Makassar, di Aula Kodam XIV Hasanuddin, Selasa 5 Desember 2017.

Dalam materi kuliahnya yang bertemakan “Mamantapkan Wawasan Kebangsaan Guna Mewujudkan Indonesia Jaya”. Suami Bella Saphira ini menyatakan agar mahasiswa tidak larut dengan budaya luar yang mampu mendegradasi moral budaya karakter generasi bangsa.

“Hal sederhana untuk menghindari gaya mahasiswa jaman now seperti materialis dan hedonis, adalah makan makanan lokal seperti coto Makassar. Dan mencintai produk dalam negeri. Berikut bijak menggunakan
teknologi, informasi untuk keselamatan umum, apalagi pribadi. Karena ada juga anak jaman now bangun dari tidur langsung mencari charger handphone atau buka sosial media seperti Facebook,”katanya.

Sebelum memulai materi kuliahnya dihadapan 65 orang Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Unismuh,Mayjen TNI Agus Surya Bakti sengaja memutarkan film dokumenter Lagu Indonesia Raya versi Asli (Lama) yang telah berubah menyesuaikan jaman dengan lirik lagu Indonesia Raya versi sekarang (Baru).

“Saya mau bertanya pada mahasiswa, ada yang tahu jawabannya kenapa saat lagu Indonesia Raya mau dinyanyikan harus berdiri,” kata Pangdam XIV Hasanuddin.

Melihat tak ada mahasiswa yang mampu menjawab. Dengan lugas, Agus mengisahkan perjuangan Dr. Soetomo dihadapan polisi-polisi Belanda pada tahun 1928. Ia menceritakan bahwa Dr. Soetomo menyebut “semua hadirin harus berdiri saat lagu Indonesia Raya. Dan yang tidak berdiri adalah kerbau.”

“Jadi jauh sebelum pergeseran karakter generasi bangsa yang sudah memudar saat ini. Para pejuang kita terdahulu telah mengingatkan kita semua untuk menjaga keutuhan NKRI,” kata Agus.

Sementara itu, Dosen Fisipol Unismuh Arqam Azikin mengaku terjadinya pergeseran karakter generasi bangsa saat ini. Tidak lepas dari pesatnya masalah global yang mempengaruhi cara berpikir adik-adik muda, juga adanya skenario negara luar yang mengincar sumber daya alam Indonesia seperti energi, pangan dan air. Kewaspadaan akan ancaman non militer mesti diperkuat dengan Wawasan Kebangsaan yang utuh sebagai bagian menjaga kedaulatan bangsa di era modernisasi sekarang ini.

“Selain shalat bersama dengan Pangdam, budaya makan bersama usai kuliah luar, merupakan salah satu bentuk upaya pemantapan karakter mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa,”Arqam memungkasi.(red2)

Komentar