Connect with us

OPINI: Ramadhan, Bulan Mewujudkan Dua Perisai

Citizen Jurnalism

OPINI: Ramadhan, Bulan Mewujudkan Dua Perisai

OPINI
Oleh : Nur Amalia (Forum Pena Dakwah)
Mahasiswa Strata Satu, Universitas Muslim Maros (UMMA)

PORTALMAKASSAR.COM – Dalam setahun terdapat dua belas bulan dan diantara dua belas bulan, terdapat satu bulan yang sangat ditunggu-tunggu kaum muslimin diseluruh dunia tak ketinggalan kaum muslimin yang ada di negeri Indonesia yang tercatat sebagai penduduk muslim terbesar di dunia hingga hari ini. Satu bulan tersebut yakni dinamakan bulan suci Ramadhan. Ramadhan kini tengah hadir menemani hari-hari kaum muslimin, sudah pasti disambut dengan suka cita. Ramadhan yang identik dengan kewajiban melaksanakan shaum sebulan penuh sudah pasti disambut hangat, rasa gembira tak terelakkan.

Ramadhan adalah bulan sucinya umat Islam. Melaksanakan ibadah mahdhah yang mana aktivitasnya sudah ditentukan syarat dan rukunnya, adapun salah satu ibadah mahdhah yang menjadi ciri khas Ramadhan yakni shaum Ramadhan. Bulan beribadah dan mendekat kepada Allah SWT. Hari-hari untuk beramal sholeh karena pahala yang dilipat gandakan. Bulan ketika Allah buka pintu ampunan selebar-lebarnya pada hamba yang banyak melakukan dosa dan kesalahan. Luar biasa istimewa bulan barokah ini.

Pelaksanaan shaum di bulan suci ramadhan merupakan perisai atau penjaga. Yang tidak hanya bertujuan mewujudkan keshalehan individu tapi juga keshalehan umat. Karena hakekat taqwa adalah terwujudnya ketaatan pada seluruh aturan Islam baik skala individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Bahkan bagi pemimpin yang menegakkan syariat Islam disebut juga sebagai perisai.

Suatu sikap yang wajar ketika setiap diri dari jiwa kaum muslimin menginginkan shaumnya benar-benar bisa mewujudkan ketaqwaan yang hakiki. Dan sungguh amat disayangkan ketika ramadhan berlalu begitu saja dan hanya meninggalkan kisah tanpa bekas taqwa. Maka dari itu, suatu hal yang harus di upayakan dengan penuh kesungguhan dan kesadaran untuk bertindak atas dasar iman dan ketaatan penuh kepada Allah SWT semata.

Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup

Didalam al-Qur’an sendiri secara tegas Allah SWT menyeru orang-orang yang beriman untuk melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh, tanpa mengambil ajaran yang satu dan secara bersamaan menolak ajaran yang lain. Seperti halnya dibulan suci ramadhan ini, kaum muslimin berbondong-bondong menyepakati bahkan sami’na wa atho’na atas perintah Allah SWT untuk melaksanakan shaum sesuai perintah Allah SWT didalam QS.2: 183 “Ya Ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumusysyiyam”, akan tapi secara bersamaan menolak perintah untuk melaksanakan hukum qishosh sesuai perintah Allah SWT didalam QS.2: 178 “Ya Ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumul Qishash”. Padahal shaum maupun hukum qishosh merupakan dua hal yang tidak dapat dipilih sesuka hati mana yang menurut kita baik dan mana yang menurut kita tidak baik sehingga terkesan bahwa perintah Allah SWT itu boleh kita pilih-pilih. Padahal perintah shaum maupun hukum qishosh merupakan satu kesatuan berupa kalamullah atau perkataan Allah SWT yang berarti suatu kewajiban dan harus dilaksanakan dalam hal ini tertulis di dalam al-Qur’an dan surah yang sama pula yakni surah al-Baqarah.

Kerusakan yang terjadi hingga detik ini, diakibatkan karena manusia telah mengabaikan al-Qur’an dan mengambil hukum ala manusia. Ramadhan dikatakan sebagai momentum taat dengan pernak-pernik sejuta kebaikan. Tak segan untuk melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya serta khusyuk ditambah bumbu-bumbu amalan sunnah tanpa terkecuali, berbagi sedekah sebanyak-banyaknya tanpa henti. Apalagi di siang hari saat melaksanakan shaum, kaum muslimin tidak hanya menjadikan shaum sebagai rutinitas menahan lapar dan haus semata melainkan juga menjadikan shaum sebagai rutinitas menahan amarah dan sabar sebagai pemanisnya demi meraih kemuliaan dan keutamaan ramadhan yang penuh pengampunan. Tapi sungguh memilukan, tak sedikit yang mengaku Muslim tapi tidak sepenuhnya mengambil Islam sebagai jalan hidup.

Siapapun orangnya, selama orang tersebut seorang Muslim maka sudah pasti memiliki keyakinan yang serupa atas wajibnya kaum muslimin mengimani al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Namun faktanya, jangankan menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup bahkan untuk sekedar membacanya saja masih banyak yang enggan dan untuk menghafalkannya terasa begitu berat. Padahal kebanyakan dari kita sudah sangat memahami keutamaan membaca al-Qur’an, menghafalkan apalagi mengamalkannya didalam kehidupan, termasuk tentu saja memperjuangkannya agar al-Qur’an benar-benar bisa diterapkan dalam mengatur seluruh aspek lini kehidupan.

Ramadhan dengan Kedua Perisainya

Ramadhan yang didalamnya terdapat shaum yang merupakan amalan pokok yang wajib tertunaikan sekaligus berperan sebagai perisai dari perilaku maksiat ke perilaku taqwa. Tentu sejalan dengan adanya perintah dari Allah SWT, hanya saja tidak cukup dengan ketaqwaan individu saja yang terbentuk dan meningkat karena perintah dan larangan Allah SWT tidak hanya menyangkut persoalan individu semata. Banyak sekali hukum-hukum yang berkaitan dengan keluarga, masyarakat bahkan negara. Dalam hal ini, dibutuhkan pemimpin yang mampu menerapkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan Sunnah sebagai pemanis tambahan dalam menjalani kehidupan, hanya saja pemimpin yang mampu menerapkan al-Quran dan Sunnah yakni pemimpin yang berada dalam naungan kepemimpinan islam yang dikenal dengan Khilafah Islam, Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah merupakan Institusi negara yang akan menciptakan ketaqwaan kolektif. Ketakwaan kolektif akan termanifestasikan dalam sebuah masyarakat dan negara yang menjalankan seluruh hukum-hukum Allah SWT yang menyeluruh sesuai yang termaktub didalam al-Qur’an dan Sunnah. Sehingga pemimpinnya akan berfungsi juga sebagai perisai bagi rakyatnya.

Karena Ramadhan merupakan bulan yang istimewa maka sudah sepatutnya kaum muslimin berjuang melanjutkan kembali visi dan misi hidup sesuai al-Qur’an dan Sunnah dalam naungan Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah agar tujuan Ramadhan sebagai bulan mewujudkan dua perisai bukanlah asumsi yang tiada pengaplikasian apalagi Khilafah pernah menjadi sebuah negara adi daya yang berkuasa selama 1400 tahun lamanya dan menaungi negeri-negeri kaum muslimin. Tercatat dalam waktu 30 tahun Islam mampu menguasai sepertiga dunia tepatnya di masa kepemimpinan khulafa Ar-Rasyidin ridwanulLah ‘alayhim dan beberapa dinasti Umayyah terdahulu.

Allahu ‘alam bisshowab

Nur Amalia (penulis)

More in Citizen Jurnalism

To Top