Connect with us

Kenapa Sih Harus Menulis?

S90408-14335195

Portal User

Kenapa Sih Harus Menulis?

PORTALMAKASSAR.COM – Saya sebagai pemula, tentunya cukup kecewa dengan argumen orang menyatakan seperti itu. Hakikatnya setiap orang, memiliki hobi atau bakat tersendirinya, harusnya kita mendukung orang yang memiliki hobi positif tersebut, tidak merendahkan bakatnya. Banyaknya penulis yang kita lihat sekarang ini hanya bergelut di akun medianya sendiri.

Mungkin mereka menyalurkan idenya atau hanya sekadar menuangkan curhatan yang dimilikinya. Tentu saja, saya pribadi belum mencapai tingkat seperti Penulis Novel, Boy Candra, Fiersa Besari, ataupun Ahmad Fuadi dalam perihal menulis. Hidup memang tidak ada yang instan.

Baca: Bismillah, Portal Makassar Persembahkan “Portal-User” Menulis Dapat Uang

Benar, bukan? Sebelum beranjak ke dunia penulisan terlebih dahulu, saya lebih banyak menghabiskan waktu luang untuk membaca, baik koran, novel, majalah, berita, artikel-artikel bahkan buku-buku yang dapat memotivasi. Agar memperkaya wawasan pengetahuan saya dari segi bahasa, menyusun artikulasi kata dan kalimat.

Saat menyalurkan isi benak pikiran dalam merangkai kata dan kalimat, saya lebih mengutamakan kebebasan dalam berfikir. Tak ada yang dapat mengekang saya saat menyusun bahasa karena hak milik tulisan sepenuhnya otonomi saya. Hanya dengan kata demi kata saya dapat menuangkan ide pada tulisan saya. Kalau melihat manfaatnya, menulis puisi, essai, bahkan ber-opini sekali pun adalah hal yang susah-susah gampang. Asal kita, mempunyai objek yang dituju.

Menulis, merupakan kata kerja yang dapat mengembangkan ide dalam pola berfikir, belajar Bahasa Indonesia yang baku, bahkan menambah wawasan luas, teman dan pengalaman. Menarik, bukan? Tetapi orang lain belum tersentuh, karena menulis adalah kegiatan yang menarik. Lantas, letak yang di dambakan seorang penulis dimana? Beranjak dari pertanyaan tersebut. Saya akan membahas beberapa persoalan yang telah dilupakan. Bahwa akhir-akhir ini, kurangnya budaya literasi membaca anak muda zaman sekarang.

Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar laptop atau layar handphone untuk bermain Game. Dampaknya tentu sangat berbahaya bagi generasi kedepannya. Di samping mencederai panca indra mata, akibat pancaran sinar layar handphone itu, juga mencederai pola berfikir dalam menimbah ilmu di sekolah. Berdasarkan studi, “Most Littered Nation in the World ” yang dilakukan oleh Central Conneticut State University (Amerika Serikat) pada tahun 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 Negara soal minat membaca. Indonesia persis dibawah Thailand (59) dan Bostavia (61).

Dengan statistika angka melek huruf hanya mencapai 65,6% pada orang dewasa. Itu bukan sama sekali prestasi yang patut kita banggakan, melainkan masalah sosial yang harus dibenahi segera mungkin.Sekolah Swasta maupun Negeri di Indonesia memang sudah banyak menerapkan budaya lima belas sampai dua puluh menit membaca sebelum memulai atau mengakhiri mata pelajaran setiap pagi dan pulang sekolah. Sudah cukup bagus, namun asumsi saya itu tidak cukup. Mungkin diantara mereka hanya membolak-balikkan halaman tanpa sedikitpun membacanya.

Demikianlah, mereka hanya terlihat “Membaca” padahal nyatanya, tidak. Generasi millennial adalah generasi dimana anak muda, cenderung lebih menyukai sesuatu yang praktis dan instan. Misalnya, adanya media sosial. Cukup dengan modal kouta, posisi duduk yang nyaman atau tiduran di sofa dengan cemilan di samping yang siap santap. Dengan menggeluti layar handphone sudah bisa menikmati sajian informasi di berbagai belahan dunia. Inilah manfaat era globalisasi yang perlu kita saring dengan kegiatan positif.

Namun, anak muda di era millennial ini lebih banyak menyukai genre berkutat seputar romance, scholl life, lifestyling, yang intinya hal-hal yang berbau hits, trend dan kehidupan cinta remaja. Perasaan yang mengganjal saya ketika mendapati hanya itu saja yang dikomsumsi oleh remaja masa kini. Tapi, keadaan lebih baik dibanding tidak ada yang ingin membaca sepatah katapun.

Kini, Profesi Penulis tidak dipandang sebelah mata lagi, baik fiksi maupun nonfiksi. Keberadaan mereka lebih diakui bahkan mempunyai penggemar tersendirinya. Sosial media yang ada seperti, facebook, twitter, dan instagram juga dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan karya. Apalagi media berita online seperti PortalMakassar.com, telah menyediakan wadah bagi muda-mudi untuk menuangkan bakat menulisnya. Dengan mengusun tema “Portal-User” Menulis dapat uang. Tidak sekadar menulis, tapi diberi upah pula.

Hal itu sebagai bentuk apresiasi si  Penulis atas ide dan bakatnya. Harapannya, semoga media-media lain terkhusus yang ada di Kawasan Indonesia Timur ini, juga membuat perogram sedemikian rupa. Agar kedepannya, terlahir anak muda yang penuh kreatifitas atas karyanya dan budaya literasi membaca tidak punah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Portal User

To Top