Connect with us

Ibadah Puasa dan Moralitas Seorang Muslim

Dr. H. Abdul Wahid, M.A

Artikel

Ibadah Puasa dan Moralitas Seorang Muslim

Oleh: Dr. H. Abdul Wahid, M.A
(Mubaligh dan Dosen Pergurun Tinggi Makassar)

PORTALMAKASSAR.COM – Dari aspek teologis hukum berpuasa ramadhan bagi kaum muslimin yang sudah akil baligh adalah wajib. Hal ini didasari oleh firman Allah dalam QS. al-Baqarah [2]:183).

Ibadah puasa bukanlah sekedar pertandingan menahan lapar dan haus semata, namun lebih dari itu ibadah puasa pada hakikatnya adalah “kemampuan menahan dan mengendalikan diri” dari seluruh perbuatan negatif dan tidak terpuji lainnya. Selama ini banyak kaum muslimin terjebak hanya berpuasa dengan menahan diri dari makan dan minum disiang hari ramadhan dan atau berhubungan badan bagi suami istri disiang hari, hingga mereka lupa bahwa hakikat puasa tidaklah demikian.

Rasulullah SAW. seribu empat ratus tahun yang silam pernah berpesan, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan pahala dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. At Thabrani).

Dari hadis ini menunjukkan bahwa tidak semua orang yang berpuasa memperoleh pahala dan manfaat dari ibadah puasa yang ia lakukan. Karena itu, saya kira penting untuk kita ketahui apa saja hal-hal yang dapat membatalkan pahala ibadah puasa kita, diantaranya:

1. Berkata dusta (berbohong)

Saat ini termasuk mahluk yang paling langka bahkan mungkin hampir punah di Indonesia yakni “mencari orang yang tidak suka berbohong atau mencari orang jujur”. Kebohongan saat ini seakan sulit dibendung dan dihindari, ironisnya yang suka melakukan kebohongan ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat biasa, tapi para oknum elite dari bangsa kita, sehingga masyarakat kita hilang akan sosok keteladanan dari mereka. Maka tidak berlebihan kita katakan “di Indonesia saat ini kita tidak kekurangan orang pintar, tapi kita krisis orang jujur (yang tidak suka bohong).

Ibadah puasa tergolong ke dalam ibadah rahasia (sirriyah), hanya kita dengan Allah yang tahu, beda dengan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, zakat dan seterusnya. Namun demikian walaupun ibadah puasa sifatnya rahasia, tapi tak seorangpun diantara kita selaku umat Islam yang sedang berpuasa berani untuk sembunyi-sembunyi makan dan minum walaupun sedikit, karena dalam hati kita ada keyakinan bahwa walaupun tidak ada seorangpun yang melihat apa yang kita perbuat, tapi yakinlah bahwa Allah Maha Menyaksikan dan Maha Mendengar.

Dari keyakinan ini kemudian, efek dari ibadah puasa adalah menjauhkan diri kita dari ucapan yang tidak sebenarnya (berbohong). Dalam kaitannya dengan ini Rasulullah saw. bersabda, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari).

2. Berkata rofats (kata-kata porno)

Dalam ibadah puasa eseorang muslim tidak dibenarkan berkata-kata porno dan perkataan kotor lainnya, sebab perkataan yang demikian dapat membuat ibadah puasa seorang muslim menjadi sia-sia (batal pahalanya di sisi Allah SWT).

Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadis berikut; “Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Perkataan yang sia-sia apalagi menjurus kepada perkataan pornografi pun tidak layak dilakukan seorang muslim yang sedang berpuasa, sebab hal ini bertentangan dengan karakter dan etika seorang muslim. Bagi seorang muslim justru sebaliknya yakni perkataan yang ia ucapkan adala yang dapat mendatangkan manfaat bagi orang lain.

3. Melakukan Maksiat

Puasa adalah sebuah sarana terapi jasmani dan rohani bagi seorang muslim. Terapi jasmani terlihat dalam ibadah puasa adanya pengaturan pola makan seorang muslim yang sangat luar biasa, misalnya kita hanya boleh makan dan minum mulai pada waktu magrib hingga sebelum waktu fajar. Dari pola makan seperti ini paling tidak akan melahirkan kesehatan jasmani kepada seorang muslim yang memang selama ini, dari makanan dan minuman merupakan sumber dari segala macam penyakit.

Selanjutnya puasa adalah merupakan terapi rohani bagi seorang muslim, artinya jika seorang muslim yang sedang berpuasa dilarang untuk makan dan minum disiang hari ramadhan walaupun itu makanan dan minumannya halal, hingga waktu magrib tiba, memberikan pesan bahwa dalam masalah yang halal saja kita bisa kendalikan diri, apa lagi dalam masalah yang diharamkan. Begitu juga dalam kasus yang lain misalnya bagi kita yang sedang berpuasa maka dilarang melakukan hubungan suami istri disiang hari ramadhan walaupun itu pasangan suami istri yang sah, hingga tiba malam hari, hal ini menunjukkan kepada kita bahwa bagi pasangan yang halal saja kita bisa mengendalikan syahwat, apalagi kepada pasangan yang haram.

Akhirnya, semoga kita dapat menjauhkan diri minimal dari ketiga hal di atas, agar seluruh rangkaian ibadah puasa kita dapat ganjaran pahala dari Allah SWT.

More in Artikel

To Top