Connect with us

Khilafah Meniadakan Pluralitas, Benarkah ?

Artikel

Khilafah Meniadakan Pluralitas, Benarkah ?

 

Oleh : St. Nurwahyu

Mahasiswa Strata 1 Agribisnis Universitas Muslim Maros

PORTALMAKASSAR.COM – Saat ini Gema khilafah semakin terdengar, opininya terus tersebar dan menjadi buah pembicaraan khalayak umum baik di alam maya maupun di dunia nyata. Banyak orang yang mencari tahu apa itu khilafah dan banyak pula yang turut memperjuangkannya. Urgensi kewajiban Khilafah pun semakin disadari oleh semua kalangan tanpa batas umur, latar belakang pendidikan maupun sosial kemasyarakatan.

Khilafah sendiri merupakan kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim seluruhnya untuk menegakkan syariah Islam dan mengemban dakwah islam ke seluruh dunia. Para ulama imam madzhab pun tidak pernah berselisih pendapat mengenai kewajiban mengangkat seorang khalifah/pemimpin yang akan menegakkan seluruh syariat Islam dalam sebuah institusi negara.

Namun tak sedikit pula yang menolak bahkan berusaha menghalang-halangi ide khilafah. Beragam tuduhan-tuduhan keji tanpa dalil dan tendensi fitnah terkait khilafah yang meniadakan keberagaman (pluralitas).

Mereka mengatakan bahwa syariah dan khilafah tidak akan mampu diterapkan sebab terdapat berbagai agama, kepercayaan, dan suku bangsa, sehingga penerapan hukum oleh salah satu agama justru akan menindas agama lain dan minoritas non muslim akan di diskriminasi.

Pluralitas adalah Sunnatullah

Telah disadari bersama bahwa seluruh bangsa di dunia adalah plural. Karena masyarakat yang plural inilah yang harus diikat oleh aturan yang benar-benar adil dan mampu menyatukan semua Masyarakat, dan Syariah islam dalam sejarahnya terbukti mampu melakukannya.

Pluralitas dan pluralisme jelas merupakan dua hal yang sangat berbeda. Plural artinya adalah jamak, maksudnya masyarakat yang terdiri dari berbagai agama, suku, adat, kebiasaan, dan sebagainya. Ini adalah fakta dan sudah menjadi sunnatullah dan yang tak dapat dihindari. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hujarat ayat 13 : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”.

Sedangkan pluralisme adalah suatu paham (isme) yang meyakini bahwa semua agama sama dan kebenaran setiap agama adalah relatif. Karena itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama lain salah.

Suatu pemeluk agama tidak boleh menerapkan hukum agamanya ke Masyarakat yang plural, karena melanggar hak asasi pemeluk agama lain. Inilah penjelasan terkait pluralitas dan pluralisme. Paham pluralisme ini jelas bertentangan dengan apa yang menjadi akidah dari setiap ajaran. Jika pluralisme ini diterapkan justru akan membahayakan keberagaman kehidupan manusia karena terjadi bias antara yang haq dan yang bathil.

Padahal Allah SWT berfirman : “Siapa saja yang mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran [3]:85).

Syeikh Muhammad Ali ash-Shabuni menjelaskan bahwa melalui ayat ini Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengikuti syariah Islam dan menolak syariah lainnya setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW. Mereka yang ingkar akan dimasukkan kedalam neraka dan abadi didalamnya (Lihat : Ash-Shabuni, Shafwah, at-Tafasir, I/161).

Apakah Syariah & Khilafah dapat diterapkan dalam Masyarakat yang plural ?
Sejatinya Masyarakat yang plural akan memerlukan aturan yang menyatukan mereka. Maka aturan tersebut haruslah berasal dari syariah Allah SWT. Penerapan syariah Islam pada masyarakat yang plural justru akan menciptakan keadilan dan kesejahteraan.

Syariah Islam ada yang berada dalam dimensi privat seperti aqidah dan ibadah mahdah, maka syariah islam hanya mewajibkan pada penganut Islam. Sebagaimana dalam firman Allah SWT : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah [2]:256)

Berdasarkan ayat tersebut maka jelas bahwa Non Muslim bebas memeluk agama dan bebas beribadah sesuai keyakinannya. Namun dalam urusan publik, Syariah Islam mengatur Masyarakat secara adil, tanpa melihat kepercayaannya. Hukum ditegakkan sesuai syariah Islam. Misalnya hukum potong tangan diterapkan kepada semua pencuri, tanpa melihat agamanya. Jika hal ini diterapkan, maka pencurian dapat diminimalisasi dan seluruh masyarakat akan aman , baik Muslim maupun non Muslim. Dan untuk seluruh fasilitas umum seperti pendidikan, kesehatan, hukum dan sebagainya semua dijamin untuk semua lapisan masyarakat khilafah. Khilafah akan mengayomi sehingga apa pun agamanya akan hidup sejahtera, rukun dan damai.

Negara khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh warga negaranya baik muslim maupun kafir dzimmi (non muslim yang tunduk pada pemerintahan Islam). Jaminan tersebut ditunjukkan berdasarkan sabda Rasulullah SAW :” Siapa saja yang menyakiti dzimmi maka aku berperkara dengan dia, siapa saja berperkara dengan aku, maka aku akan memperkarakan dia pada hari kiamat”.(Hadits Hasan).

Jadi pluralitas bukanlah masalah dalam penerapan syariah dan khilafah. Bahkan Selama beratus-ratus tahun khilafah diterapkan pada masyarakat yang plural. Ketika syariah diterapkan dalam bingkai khilafah, pluralitas masyarakat dapat hidup dengan damai dan adil.

Sejarah telah mencatat bahwa khilafah Islam pernah memberikan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakatnya yang memiliki latar belakang yang berbeda termasuk perbedaan agama. T. W. Arnold dalam bukunya The Praching of Islam, menuliskan “perlakuan pada warga kristen oleh pemerintahan ottoman selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.

Kaum kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta Negara Unitaris (kesatuan) yang kemudiam menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada dibawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik; kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintahan Turki, dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam….Kaum Cossack ang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghiruup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan”.

Wallahu a’lam Bishawab

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top