Connect with us

Misi Sosial ‘Pendekar Anak Makassar’ untuk Selamatkan Generasi Penerus Bangsa

Komunitas

Misi Sosial ‘Pendekar Anak Makassar’ untuk Selamatkan Generasi Penerus Bangsa

PORTALMAKASSAR.COM – “Save Children Save Indonesia!”

Kalimat itu menggema di pelataran Gedung Phinisi Universitas Negeri makassar (UNM), setelah belasan pemuda mengadakan rapat perencanaan aksi, Minggu (14/4/2019) pagi.

Kalimat bermakna “Selamatkan anak-anak, selamatkan Indonesia” itu kerap menjadi pemacu semangat bagi komunitas yang berusia tiga tahun itu.

Namun, semangat membara tanpa bakti sosial tak ada artinya. Itulah mengapa mereka selalu punya niat baik mengawali hari. Seperti memberi bantuan berupa pakaian layak pakai, sembako hingga alat tulis untuk anak-anak panti asuhan yang rutin dikunjungi setiap hari Minggu. Hasil dari para donatur yang dikumpul selama sebulan.

“Tak banyak, tapi cukup membantu-lah,” ucap Andi Arifad, Presiden Komunitas Children Care Community Makassar. Komunitas ini terbentuk karena keprihatinan dan kepedulian segelintir anak muda yang dimotori oleh Algha Sanjaya terhadap berbagai kriminalitas, yakni anak sebagai korban maupun pelaku dalam suatu peristiwa seperti kekerasan verbal, fisik, bahkan seksual.

Memang, selama ini mereka selalu berkunjung memberi edukasi kepada anak-anak panti tanpa membawa apa-apa. Kali ini tentu berbeda, sehingga diharapkan ilmu pendidikan formal, pendidikan karakter dan budi pekerti dapat ditransfer lebih mudah.

Arifad menilai, pendidikan karakter cuma sebagian kecil didapatkan dari sekolah, sebagian lainnya seyogianya diperoleh di rumah. Sedangkan, anak-anak ini harus berbagi kasih sayang dari seorang ibu asuh.

“Pada intinya kami ingin memberikan contoh perilaku yang baik kepada mereka dan mengedukasi mereka dengan 18 nilai pendidikan karakter yang menjadi program Kemendikbud,” seloroh Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini tersebut.

Agar berjalan baik, tak kurang enam program kerja ia buat, seperti Donasi Mantan, Sedekah Berkah, Magic Paper,Plas ++, Public Campaigh hingga Belajar Bareng menjadi peluru komunitas.

“Komunitas ini bentuk aksi nyata kami, untuk menolak segala bentuk kekerasan kepada anak, khususnya di kota Makassar,” ujar Algha lagi.

Komunitas 3CM sudah melakukan empat kali perekrutan ‘Pendekar Anak Makassar’ sebutan Volunteer 3CM, yang siap sedia memperjuangkan hak-hak anak Makassar.

Kata pendekar biasanya identik dengan ilmu beladiri, tetapi Algha menilai justru itulah menariknya. Memberi isyarat kepada pelanggar hak anak agar tahu, bahwa ada pendekar yang siap memeranginya jika berani berbuat kasar kepada anak-anak.

Pemerhati Anak Kota Makassar mencatat, pada tahun 2018 telah terjadi 700 Kasus kekerasan seksual pada anak di Kota Makassar.

Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto sudah mewanti-wanti agar jangan lagi terjadi vandalisme terhadap generasi penerus bangsa. Tak heran kemudian Pemerintah Kota Makassar membuat program ‘Jagai Anak Ta’.

Kehadiran “Jagai Anak Ta” bertujuan mendorong kesadaran masyarakat, untuk memberi perlindungan terhadap eksploitasi dan kekerasan terhadap anak.

“Karena anak adalah warisan yang paling berharga, baik untuk keluarga maupun masa depan sebuah bangsa,” tulis Danny Pomanto di akun Facebook pribadinya.

Tentu program Danny Pomanto ini sama sekali tak menyentuh anak-anak panti ini. Sebab sebagian besar penghuni panti Al-Muallaf binaan 3CM ini sudah tak memiliki orang tua. Sebagian lagi sengaja di buang orang tua mereka sendiri.

Member Komunitas 3CM sedih melihat kondisi demikian, sehingga inilah dasar pergerakan para pemuda, untuk menjadi angin sejuk teruntuk masa depan generasi muda bangsa.

Marlanita, Ibu asuh sekaligus pimpinan Panti Asuhan Al-Muallaf mengaku sangat terbantu komunitas 3CM. Sebelum komunitas 3CM mengulurkan tangan, panti mereka sepi donatur.

Lokasi panti di lorong sempit, serta tak memiliki akses komunikasi digital menjadi alasannya. “Bahkan untuk makan saja kami kesulitan, belum lagi kalau anak-anak minta uang saku, pusing saya,” cerita Marlanita saat ditemui, Minggu (14/4) lalu.

Ia tak sendirian menjadi pembina di panti tersebut. Bersama saudaranya, mereka wajib saling membagi waktu mengasuh 36 anak, tiga diantaranya masih balita, Bilqis (4 tahun), Bilal (2 tahun) dan Bilham (2 bulan).

Ketiganya punya nasib sama, berawal kenakalan remaja, hingga orangtua-nya menitipkan mereka ke Panti, alasan klasik, malu menangung aib Keluarga.

“Yang paling kecil ini (Bilham) dibawa kesini oleh ibu-nya dengan kondisi sudah parah. Saya pikir malah sudah mi meninggal, tapi kuasa Tuhan, sampai sekarang masih sehat,” cerita Marlanita.

Bilham satu diantara jutaan balita lain di Indonesia menjadi korban dari kenakalan remaja yang sebenarnya inti masalahnya adalah pendidikan karakter.

Menangkap tantangan itu, sudah barang pasti hadirnya Pendekar Anak Makassar 3CM bisa membantu kinerja pemerintah untuk melindungi generasi penerus melalui program pembinaan terstruktur.

More in Komunitas

To Top