Connect with us

Murka Dituntut Anaknya, H Mukti: Saya Tidak Ada Salah, Kenapa Dibawa ke Pengadilan

H. Abd. Mukti (82) usai mengikuti sidang lanjutan di PN Parepare, Rabu (13/11). (PM)

Parepare

Murka Dituntut Anaknya, H Mukti: Saya Tidak Ada Salah, Kenapa Dibawa ke Pengadilan

PORTALMAKASSAR.COM – Sidang ke enam lanjutan gugatan perdata oleh Ibrahim Mukti ke ayah kandungnya H. Abd Mukti (82) kembali digelar di PN Parepare, Rabu (13/11/2019) pagi.

Ibrahim Mukti memperkarakan H. Mukti sebagai tergugat 1 karena merasa tidak menerima deviden di perusahaan keluarga PT Imam Laega Jaya Bersama.

Dalam perusahaan itu, Ibrahim Mukti tercatat didalam akte salahsatu pemegang saham perusahaan yang menaungi usaha SPBU yang dikelola saat ini oleh ayahnya di Sidrap dan Parepare (Soreang).

Dalam PT Imam Laega Jaya Bersama, H. Mukti dan Istri (Ibu Ibrahim Mukti) adalah direksi dan 7 orang anaknya dimasukan. Namun belakangan Ibrahim Mukti melakukan gugatan ke pengadilan yang saat ini berproses.

Baca : Digugat Anak Kandungnya Soal Harta, H. Abd Mukti Pakai Kursi Roda Ikuti Sidang di PN Parepare

Usai sidang hari ini, H. Mukti yang kembali hadir mendengarkan lanjutan persidangan masih tetap menggunakan kursi roda. Didampingi beberapa anak kandungnya yang perempuan saudara Ibrahim Mukti.

Hadir pula kuasa hukumnya, Syahrir yang menghadirkan saksi ahli di bidang Hukum Perusahaan. Sementara pihak penggugat hanya dihadiri kuasa hukumnya Moh Rendy, SH.

Usai mengikuti sidang sekira 2 jam, H Mukti kepada wartawan tidak bisa menutupi kekecewaannya terhadap anak kandungnya sendiri yang tega memperkarakan ke pengadilan.

Ia merasa telah banyak memberi bantuan ke Ibrahim Mukti tapi dibalas dengan tidak sesuai diharapkan. H. Mukti bercerita kalau Ibrahim Mukti diberikan pekerjaan mengelola SPBU-nya.

H. Abd. Mukti Rachim (82) diatas kursi roda didampingi keluarganya mendengarkan sidang di PN Parepare, Rabu (13/11).

“Waktu tidak ada kerjanya saya panggil kerja di SPBU saya. Hingga saya bangunkan SPBU. Sampai sekarang dia tuntut saya, yah begitulah dia bilang ada sahamnya. Mana bukti sahamnya, mana tandatangannya, mana kwitansinya mana sertifikatnya. Sampai sekarang nda ada, justru saya dibawa ke pengadilan. Ini namanya anak durhaka. Sudah dikasi makan, dibesarkan, dan di sekolahkan dan dipelihara baik-baik. Sampai sekaramg saya dibawa ke pengadilan untuk tuntut harta saya,” ucap H. Mukti dihadapan awak media.

Lanjutnya, dia sudah tua dan hanya ingin menghabiskan usianya tenang bersama keluarga, dan bermanfaat untuk kebaikan.

“Tidak ada orang tua mau celakakan anaknya. Semua anak, saya masukkan namanya saja karena pertamina yang membutuhkan (PT). 20 tahun itu SPBU saya berdiri baru ada namanya PT (2012). Jadi saya masukan ini anak yang 7, tapi dua saja menuntut. Sudah belikan mobil rumah spbu apalagi di tuntut harta,” ucapnya.

Baca juga : Sidang Anak Gugat Ayah Kembali Digelar di PN Parepare, Ini Jadwalnya

Ditanya perasaan saat ini, “Sudah tidak enak lagi perasaan. Saya minta dia dikelaurkan dari keluarga saya. Sejak saya lahir sampai sekarang kenapa saya dipanggil ke pengadilan anak saya sendiri bawa saya ke pengadilan, saya tidak salah,” tuturnya diatas kursi roda.

Ditempat sama, Kuasa Hukum Ibrahim Mukti, Moh Rendy, SH mengatakan ingin meluruskan opini yang terbentuk bahwa bukan anak yang menggugat ayahnya. Karena ini menyangkut perusahaan yang didalamnya semua berhak berpendapat menuntut deviden dan RUPS.

H. Abd Mukti saat diantar keluar ruang sidang.

“Kebetulan saja di perusahaan ini orangtuanya dan saudara-saudaranya ada di dalam. Jadi bukan soal anak tuntut harta. Saya perlu luruskan disini ndada perkara gono gini dan harta. Karena gono gini itu anak suami dan istri jadi ini perlu saya luruskan. Karena ini soal deviden perusahaan,” jelasnya.

Sebelum perkara ini juga sudah terjadi perselisihan. Kata dia seperti rencana penjaualan aset SPBU di Soreang yang ditolak kliennya karena alasan sebagai ikon keluarga.

“Klien saya sangat menjunjung nilai-nilai kekeluargaan. Seperti contoh ketika diberi tanah tidak langsung tergesa-gesa balik nama, karena dia tau kedepannya,” katanya.

Meski begitu, persoalan ini dia menyerahkan sepenuhnya hasil dari hakim memutuskan. “Kami tidak bisa su’udzon, dan kita serahkan hasilnya pengadilan yang putuskan,” tegasnya.

Diketahui sidang akan dilanjut kembali pada 18 November dengan mendengarkan saksi bersama. Lalu dilanjut lagi 20 November kesimpulan dan 4 Desember 2019 adalah putusan sidang oleh majelis hakim.

More in Parepare

To Top