Connect with us

Hanya di Makassar, Driver Ojol ‘Sule’ Mahasiswa S2 di 3 Kampus Sekaligus

Ansar Sule mengenakan seragam driver ojol usai kuliah di UNIFA, Jumat (11/10/2019) malam. (PM/HS)

Portal Makassar

Hanya di Makassar, Driver Ojol ‘Sule’ Mahasiswa S2 di 3 Kampus Sekaligus

PORTALMAKASSAR.COM – Dari berbagai penulusuran penulis di pencarian google, kisah hidup Ansar Sule yang sehari-hari berprofesi sebagai driver ojek online (ojol) di Makassar belum ada yang menyamai.

Bagaimana tidak, dibalik profesi sebagai driver ojol, Sule sapannya ternyata juga tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana aktif atau S2.

Tidak tanggung-tanggung, Sule tercatat sebagai mahasiswa S2 di Tiga kampus berbeda. Diantaranya UIT (Universitas Indonesia Timur), Unifa (Universitas Fajar) dan Patriarta.

Dia tercatat mahasiswa S2 di UIT angkatan 2017 jurusan administrasi negara, saat ini proses akhir. Lalu 2018 diterima di Pascasarjana UNIFA, jurusan Komunikasi Politik dan sudah semester Tiga.

Terakhir, Sule lanjut lagi S2 di Patriarta angkatan 2019 jurusan manajemen dengan status mahasiswa baru.

Saat di wisuda S1 Unismuh. (Dok. Ist)

Walau memiliki tiga kampus sekaligus, tapi jadwal perkuliahan dipastikan tidak ada yang bertabrakan.

“Di Unifa kan Kamis dan Jumat sementara Patriarta Sabtu dan Minggu. Kalau di UIT sudah selesai kuliahnya sisa menuggu wisuda,” kata Sule saat ditemui di Kampus Unifa usai mengikuti perkuliahan Jumat 11 Oktober 2019 malam.

Untuk membiayai kuliah per semester di tiga kampusnya, Pria kelahiran 13 Mei 1984 ini hanya menggantungkan di jalanan sebagai ojol. Sule biasanya “narik” mulai Pukul 08.00 pagi hingga 23.00 malam.

“Kadang dapat Rp 60 ribu sampai Rp 130 ribu setiap hari. Uang itu saya simpan untuk keperluan hari hari dan biaya kuliah,” lanjut Sule.

Sule berkisah setelah selesai S1 di Fisipol Unismuh, tahun 2015 dia sempat juga mendaftar kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan Pascasarjana UNY namun tidak lulus. Lalu kembali ke Makassar 2016 daftar lagi di Pascasarjana Unibos namun lagi-lagi gagal.

Saat di kantor Ristek Dikti menggunakan almamter UIT. (DOK. IST)

“Mungkin saya tidak berjodoh di kampus itu,” katanya. Apa yang memotivasi sehingga kuliah di tiga kampus sekaligus?.

“Saya mau buktikan bahwa jangan menilai orang dari penampilan dan hari ini. Karena bisa saja dia lebih baik dari kita kemudian hari. Dulu orang bilang saya gila dan tidak bisa lanjut sekolah karena tidak punya uang. Kata-kata itu yang saya tidak akan lupa dan mau membuktikan,” kisahnya.

Ayahnya sudah meninggal dan ibunya kini di Kendari, menurutnya ia punya beberapa saudara di Makassar tapi sudah jarang komunikasi. Sule tidak mau membebankannya ke orang lain termasuk saudaranya sendiri.

Pria berambut gonrong ini mengaku untuk bertahan hidup di Makassar, ia pernah menjadi juru parkir, jadi “Pak Ogah” waktu masih kuliah di Unismuh, buruh bangunan, tukang cat, pelayan di rumah makan hingga pencabut rumput.

Foto bersama teman angkatan 2018 mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Komunikasi UNIFA. (DOK. IST)

Ia merasa enjoy kuliah di tiga kampus berbeda. Selain kata dia menambah wawasan dan menambah teman baru. Ia juga tidak malu dengan profesinya.

“Saya bisa tambah pengalaman, teman-teman dari berbagai karakter. Kenapa mesti malu, kita semua sama kok dihadapan Allah,” kata Sule.

Untuk tugas kuliah, “saya langsung kerjakan. Cari cari di internet. Begadang, mengantuk, tapi tidak apa-apa biar tugas tidak ditunda,” kata dia.

Sule mengaku ingin buktikan dengan lanjut berkuliah bahwa ilmu didapatkan hanya untuk bermanfaat kepada orang lain.

“Supaya orang lain tidak bodoh bodohi kita. Alhamdulillah saya sudah banyak teman,” ungkap Sule.

Sule sempat mencari beasiswa ke pemerintah namun tidak berhasil. Sehingga ia memilih lebih baik mencari sendiri dari pada mengemis ke pemerintah, “dan pemerintah tidak anggap. Makanya saya tidak maumi meminta bantuan,” tambahnya.

Tidak ada cita-cita bahwa setelah kuliah mau jadi apa. Dia serahkan semua ke sang pecipta.

“Tidak ada motivasi lain-lain. Saya nikmati semua. Untuk menikah, saya juga serahkan sama pencipta,” tutur Sule.

Jalan terjal Sule juga berawal sejak SD, SMP dan SMA. Semua pendidikan itu harus dilewati dengan jalur paket.

“Atas ada kemauan dan usaha, pasti ada jalan,” tutup Sule.

HS

More in Portal Makassar

To Top