Connect with us

Adakan FGD, Unhas Bahas Kesejahteraan Masyarakat Papua Barat

SAVE_20190623_240351

Portal User

Adakan FGD, Unhas Bahas Kesejahteraan Masyarakat Papua Barat

PORTALMAKASSAR.COM – Universitas Hasanuddin mengadakan Forum Group Discussion (FGD) di Aula Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) , Jalan Jendral Sudirman No. 73, Sorong pada Rabu (19/6). Kegiatan ini bertema “Strategi Pemberdayaan Perempuan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Papua Barat”.

Acara ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal  dan eksternal perempuan Papua untuk mengoptimalkan perannya dalam rangka menyejahterakan masyarakat. FGD yang dihadiri oleh berbagai kalangan seperti tokoh perempuan, masyarakat Papua Barat, pelaku usaha, dan organisasi wanita ini menghadirkan beberapa pembicara. Diantaranya adalah Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA yang diwakili oleh Prof. Dr. Ir. Sutinah Made, M. Si dan Kepala Dinas P3A, Drs. Sephi Sangkek. Adapun fasilitator yang turut hadir adalah beberapa tokoh masyarakat, seperti pendeta, dosen, advokat, dan lain-lain.

Salah satu fasilitator yang merupakan seorang advokat, Muliadi SH.MH menuturkan bahwa perempuan Papualah yang paling kuat dan hebat, namun kurang memiliki spirit kewirausahaan. “Ada usaha perempuan tapi masih dijual lokal dan yang paling penting mereka butuh pelatihan keuangan dan kepemimpinan, karena SDM masih rendah,” lanjutnya.

Sejalan dengan itu, Pendeta Debora I. Mambrasar juga membenarkan bahwa perempuan Papua terlahir untuk kerja, seperti kerja kebun, mulai dari menanam, memanen, mengolah sampai memasarkan. “Perempuan merupakan tulang punggung keluarga, suami hanya tinggal di rumah, karena perempuan Papua sudah dibayarkan mas kawinnya yang sangat mahal sampai ratusan juta rupiah sehingga wajib bekerja. Ini sebenarnya merupakan kekuatan juga merupakan kelemahan karena terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),”  lanjut Debora.

Ice Bunganaen (Perempuan Flabamora),  Sarlota Kmurawak ketua PATBM, dan  Maria M. Maniburi (Perempuan Waropen) menyatakan sudah ada usaha rumahan sudah berproduksi tapi belum punya tempat memasarkan.

Prof. Dr. Ir. Sutinah Made, M. Si mengharapkan kehadiran FGD ini mampu menemukan masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan dan memberikan solusi sesuai kebutuhan mereka. Menurutnya, kebutuhan Perempuan Papua adalah pelatihan manajemen & kepemimpinan, Pelatihan wirausaha dan Keuangan. Ia melanjutkan bahwa sarana dan prasarana, teknologi, modal usaha serta jaringan pemasaran juga sangat penting untuk memajukan usaha kaum perempuan di Papua.

“Semoga ke depan Unhas dapat bersinergis dengan pemerintah Papua Barat melakukan start up bagi usaha mama-mama agar bisa mengakses pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional,” harapnya.

Portal User

More in Portal User

To Top