Connect with us

Di Serambi Persinggahan

Di Serambi Persinggahan

Portal User

Di Serambi Persinggahan

Oleh: Muhlis Pasakai

PORTALMAKASSAR.COM – Jauh sudah rute perjalanan yang kita lalui, entah berapa etape telah kita lewati. Masih ingatkah dahulu? Ketika kita masih lemah?. Waktu di mana kita memulai pendakian ini. Kita selalu menyebut sebuah nama yang menguatkan asa. Bahkan ketika kita terjatuh, terkilir dan terluka, nama itu senantiasa tersebut di lisan, menemani dan mengobati rasa sakit, hingga kita bangkit lagi.

Memang dulu kita sangat intim dengannya. Orang-orang hanya membiarkan kita berjalan sendirian. Tapi dengannya, kita merengek-rengek, memelas, sampai menangis, demi untuk meraih simpati darinya. Meski terkadang juga kita jadi malas, karena seakan rayuan kita tak digubrisnya. Tapi ketika kita mulai putus asa, serasa ingin mengambek, ia menyambut dengan penuh kelembutan, menampakkan secercah sinar harapan yang terpancar penuh energi. Kita bangun lagi, berlari dan melompat.

Itu dulu.

Kini kita sudah kuat. Bahu kita sanggup memikul beban yang dahulu membuat kita merangkak. Segenggam cita telah diraih. Terkadang kita juga membusungkan dada, karena kekuasaan sudah di tangan. Kawan kita kini makin banyak, keluaga pun bertambah besar, karena kita tak lagi seperti dulu, yang lemah dan papa.

Apa yang dahulu selalu menemani keheningan jiwa kita, memeluk saat dingin menusuk gairah hidup, kini mungkin tinggal kenangan, masa lalu yang tak lagi asyik dibincangkan di era industri 4.0, hari di mana eksistensi manusia diperhadapkan pada sistem komputasi.

Hari ini langkah kita makin kuat, sederet pencapaian dan prestasi menambah rasa bangga dan percaya diri. Kuasa kita yang semakin bertambah kekar, dan suara kita yang makin melengking. Nalar, logika dan pemikiran kita semakin tajam mengoyak-ngoyak. Semua, seakan sanggup menerjang, apa dan siapa pun.

Tapi tunggu!

Mungkin sebentar lagi kita sampai di garis finish, di penghujung perjalanan yang melelahkan. Tak terhitung cucuran keringat yang menetesi jalan-jalan panjang, antara tawa dan air mata. Tentu kita ingin semua masa lalu itu terekam dengan baik oleh sejarah, untuk diwariskan pada penghuni dunia berikutnya.

Mari kita singgah sejenak!

Sebelum kita benar-benar tiba, lihatlah! Di depan, jalan serba tak pasti. Semua energi yang kita miliki dapat habis terkuras oleh waktu yang menggilas lebih cepat.

Di sana, di ujung perjalanan ini, kita akan menjumpai penghabisan yang meremukkan semua kedigdayaan. Mungkin kita akan terjungkal, karena orang-orang di samping kita berlari lebih kencang. Kuasa di tangan tak sanggup lagi mengepal untuk menggenggam. Suara yang dahulu nyaring terdengar pun tak lagi membahana. Memori di otak mungkin tak sanggup lagi mengingat maklumat yang dahulu tersimpan rapi. Orang-orang akhirnya semakin jauh, membiarkan kita sendiri melangkah terseok-seok. Dalam kesendirian itu, kawan dan keluarga kita mungkin tak lagi banyak.

Saat itu, kita baru ingat, akan hal yang dahulu selalu membuat kita kuat ketika kita lemah, membuat kita bangun ketika kita terjatuh, menemani ketika kita sendiri, dan memanggil-manggilnya ketika kita terluka. Itulah Sang Pencipta, yang selama ini telah kita lupakan.

***

Salah satu kecenderungan yang dapat dimiliki manusia adalah mengecilnya nilai-nilai agama dalam dirinya ketika sumber daya lain sedang menguat, katakanlah materi, jabatan, kekuasaan, intelektualitas dan sebagainya.

Nilai-nilai agama itu akan dicari kembali seiring mengecil atau melemahnya kekuatan lain yang dimiliki, ketika sakit misalnya, usia senja/ menghadapi maut, tak lagi memiliki kekuasaan/ pengaruh, dan sejenisnya. Dalam kondisi seperti itulah nilai-nilai agama akan dicari kembali sebagai pelarian untuk menjadi sandaran.

Ternyata, setelah semua keberdayaan manusia habis terkuras, barulah kesadaran tertinggi akan tiba.

  • Wallahu A’lam

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Portal User

To Top