Connect with us

Generasi Muda dalam Menghadapi Bonus Demografi di era 4.0

line_42535334904209

Portal User

Generasi Muda dalam Menghadapi Bonus Demografi di era 4.0

JUSRIAWAN FAJRI
GARDA TIPIKOR FH-UH

PORTALMAKASSAR.COM – Peran seluruh warga negara khususnya generasi muda sangat menentukan kedudukan bangsa di mata dunia. Generasi muda seringkali dijadikan salah satu tolak ukur seberapa maju atau berkembangnya suatu negara. Berkaca pada fenomena yang kita alami saat ini, keadaan Indonesia sebagai negara yang kurang lebih telah 72 tahun mengecap indahnya kemerdekaan tidak serta merta memberikan hasil yang maksimal dalam dunia persaingan dengan negara berkembang lainnya, baik itu di asia maupun di dunia

Kita ambil contoh persaingan dari segi ekonomi, Indonesia tentunya sudah lebih baik dan berkembang dari kehidupan ekonomi di masa silam, walaupun begitu, pemicu kegagalan pembangunan serta kesejahteraan bangsa selalu membuntuti setiap langkah kita. Salah satunya adalah lesunya semangat generasi muda dalam meningkatkan kualitas serta daya saing dalam berkarya.

Berdasarkan proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2013 jumlah penduduk Indonesia pada 2018 mencapai 265 juta jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari 133,17 juta jiwa laki-laki dan 131,88 juta jiwa perempuan. Menurut kelompok umur, penduduk yang masih tergolong anak-anak (0-14 tahun) mencapai 70,49 juta jiwa atau sekitar 26,6% dari total populasi.

Untuk populasi yang masuk kategori usia produktif (14-64 tahun) 179,13 juta jiwa (67,6%) dan penduduk usia lanjut 65 ke atas sebanyak 85,89 juta jiwa (5,8%). Dari proyeksi tersebut, jumlah kelahiran pada tahun ini mencapai 4,81 juta jiwa sedangkan jumlah kematian 1,72 juta jiwa. Adapun rasio angka ketergantungan (usia produktif terhadap usia nonproduktif) sebesar 47,9%, lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 48,1% dan juga turun dari posisi 2010 yang mencapai 50,5%.

Dapat di simpulkan bahwa Indonesia memang akan terus mengalami kenaikan jumlah penduduk hingga tahun 2050. Jumlah penduduk yang besar bukan jaminan untuk mengecap hasil yang maksimal dari setiap kerja keras penduduknya. Justru di sini malah terjadi ketidakseimbangan jumlah penduduk dengan lapangan pekerjaan yang disediakan atau jumlah penduduk usia produktif dengan produktivitas yang dihasilkan. Padahal, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia,kl Korea, Singapura, Jepang dan China, kontribusi serta semangat generasi muda Indonesia dalam berkarya masih terpaut sangat jauh.

Maka dari itu kita selaku warga negara Indonesia sudah sepatutnya bahu-membahu dalam mencari jalan keluar dari setiap permasalahan maupun hambatan yang ada.

Dari permasalahan tersebut, akan menimbulkan pertanyaan dalam benak diri kita, salah satunya adalah: mengapa hal itu bisa terjadi ?, Apa penyebab ketidakseimbangan antara jumlah usia produktif dengan produktivitas yang dihasilkan?, Mengapa Indonesia disandingkan dengan negara-negara lain yang notabene sudah jauh berkembang bahkan berada di atas kita?. Pemikiran kritis yang kita miliki dengan melihat fenomena yang ada.

Yang pertama, bisa jadi karena kurangnya lowongan pekerjaan yang memadai sehingga menyebabkan sebagian diri mereka tidak memiliki pekerjaan dan malah menjadi beban negara karena pemerintah. Yang kedua, bisa jadi penyebabnya berasal dari diri kita sendiri, seperti tidak adanya keinginan untuk bekerja (malas), sehingga menunda-nunda waktu mereka untuk berkarya. Kalaupun ada yang memiliki kemampuan, tetapi mereka tidak mendalami atau mengasah kemampuan itu. Hal-hal bersifat psikologis tersebut justru menjadi hal yang sangat berpengaruh kepribadian generasi muda saat ini.

Seiring kemajuan teknologi, hadirnya gadget, serta berbagai macam teknologi canggih juga dapat menjadi penyebab beralihnya fokus para pemuda usia produktif pada hal-hal tersebut. Mereka tak lagi mempunyai keinginan untuk berkarya akibat merasa telah cukup puas dan asik dengan zona layar mereka, padahal ini adalah ancaman bagi diri kita sendiri secara psikologis.

Pertanyaan selanjutnya, Indonesia selalu disandingkan dengan negara-negara yang sudah terlebih dahulu berkembang bahkan maju? Karena keberhasilan mereka itulah yang bisa dijadikan contoh bagi kita demi tercapainya peningkatan standar serta semangat pemuda-pemudi Indonesia tercinta ini. Produk-produk lokal hasil hasil pemikiran hingga dijadikan karya masih dianggap lebih keren di bandingkan dengan negara-negara lain. Tapi di Indonesia terbalik, masyarakat kita lebih banyak mengagumkan produk-produk ekspor. Masyarakat Indonesia khususnya generasi muda harus lebih giat lagi dalam membagakan produknya sendiri serta menaikkan citra bangsa

Sebagai tulang punggung serta ujung tombak sebuah negara, para generasi muda harus punya semangat serta pemikiran luas untuk kehidupan pribadi serta masyarakat atau negaranya. Tentunya menyelidiki terlebih dahulu penyebab-penyebab kegagalan pembangunan yang terjadi di negara ini, baru kemudian kita akan menindaklanjuti hal tersebut dengan solusi-solusi yang ideal.

Terakhir, mahasiswa sebagai agent of control tentunya memiliki peran andil dalam pembangunan Indonesia kedepan. Salah satu contohnya dengan menjadi pemuda yang aktif berorganisasi di dalam kampus misalnya. Dengan begitu kita sebagai para penerus bangsa telah ikut andil dalam mewujudkan sebuah tujuan yang dirancang dalam berorganisasi yang kita ikuti. Waktu, tenaga, dan juga materi yang sudah kita berikan pada organisasi yang kita ikuti adalah contoh kecil yang bisa kita lakukan saat ini.

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Portal User

To Top