Connect with us

Islam dan Pencederaan anak anak bangsa “Antara kekerasan dan kebebasan”

images-1

Portal User

Islam dan Pencederaan anak anak bangsa “Antara kekerasan dan kebebasan”

PORTALUSER – “Beri aku seribu orang tua maka dengannya akan kucabut Sameru dari akarnya dan beri aku Sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”

Kalimat itulah yang sempat di ungkapkan Bapak Proklamator dengan begitu tegas, keras dan amat berapi api di salah satunya podium pidatonya. Dan dari kalimat yang sama sepatutnya kita memahami bahwasanya dari tangan muda mudi-lah bangsa mengenal masa depannya. Maka tak heran jikalau sebagai anak anak bangsa harusnya dididik dengan baik, dengan budi pekerti yang luhur, serta menanamkan mereka nilai nilai penting dalam berbangsa dan bernegara.

Karena dianggap sebagai Aset paling berharga dalam sebuah negara (anak anak), maka wajar jikalau Bapak Soeharto pada masa pemerintahannya mengeluarkan surat keputusan Presiden Republik Indonesia no 44 tahun 1984, mengenai ditetapkannya tanggal 23 juli sebagai momentum hari anak Nasional yang dilaksanakan mulai dari tingkat pusat sampai tingkat daerah.

Hingga dalam menanggapi hal ini Negara menyusun hukum dan perundang undangan seperti dibentuknya UU nomor 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak yang memuat berbagai ketentuan tentang masalah anak di Indonesia maupun dibentuknya komisi perlindungan Anak Demi kelangsungan hidup anak yang aman, damai dan tenteram.

Namun sayangnya, pembentukan perundang undangan seperti beberapa contoh diatas bukannya menjamin kelangsungan hidup anak yang aman malah sebaliknya. Bagaimana bisa? Tentu bisa, dan Perihal ini dikarenakan mencuaknya berbagai kasus beberapa tahun terakhir yang mewarnai media pemberitaan di berbagai daerah.

Dan berikut dua point penting dalam merangkum kasus kasus yang selalu saja menyudutkan kelangsungan hidup anak anak:

1. Kekerasan 

Perlu diketahui bahwasanya Agama Islam adalah agama yang memberikan perlindungan dan penghargaan pada seluruh manusia tanpa terkecuali, termasuk pada anak-anak. Hingga dari sinilah Islam sebagai Agama Rahmatan Lil’alamin memiliki nilai-nilai universal untuk menjawab kebutuhan terhadap pembebasan bagi perempuan dan anak yang mengalami kekerasan.

Seperti yang disebutkan dalam Sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Dar al Quthni dan Ibnu Majjah dari Abu Said al-Khudhri : “Janganlah membuat aniaya, dan jangan pula mau dianiaya”.

Namun sayangnya, baik dari segi undang undang maupun arahan agama seperti pada hadits diatas rupanya diabaikan begitu saja. Mengapa tidak? Bukankah kekerasan baik dari segi fisik maupun psikis, seperti pembullyan dan berbagai kasus pencabulan selalu saja mewarnai media.

Sebetulnya Kita tidak perlu sungkan menyebut satu persatu kasus yang selalu saja membuat kita berimpati plus mengkerutkan dahi, salah satunya ialah kasus adik kita Audrey (siswi SMP) yang dilakukan oleh 12 siswi SMA yang kononnya terjadi karena seorang pria.

Dari kasus inilah sebetulnya kita bisa berkesimpulan bahwa pendidikan yang diharapkan membentuk nilai akhlak para anak anak bangsa untuk menjadi generasi yang cemerlang malah faktanya kebalik! Mungkin kalau kasus kekerasan yang dilakukan oleh antar anak sekolahan atau antar sesama pelajar, maka tentu sebagai pengamat kita akan menyalahkan tentang ketiadaan bimbingan guru atau pendidik.

Lantas bagaimana jikalau yang melakukan kekerasan malah tenaga pendidiknya?

Seperti yang dikutip di INEWS.ID menginformasikan bahwa oknum guru Sekolah Dasar di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dengan anisial (SP) malah mencabuli siswanya sendiri hingga mencapai 30 orang anak dengan ancaman diberi nilai jelek, dan perihal ini baru diketahui dan dilaporkan kepihak berwajib ketika salah satu anak mengadukan kepada orang tuanya seperti yang dijelaskan Kasatreskim Polres Lamongan, AKP Wahyu Norman Hidayat (4 juli 2019)

Sangat memprihatinkan dan memilukan bukan? Bagaimana tidak? Guru yang dipandang sebagai tenaga pendidik profesional yang dipercaya mampu mendidik, mengajarkan, membimbing, melatih serta memberikan penilaian pada setiap evaluasi kepada peserta didik kini malah menyeleneh begitu saja.

Lantas, apakah kasus kekerasan seperti diatas akan berlalu begitu saja tanpa harus berefek? Tentu tidak! Jika bukan pada kematian, pasti akan muncul gangguan gangguan pada anak.

Pertama pada psikis anak yang memerlukan terapi psikologi dari sang ahli atau mereka harus mengidap penyakit traumatis yang akan mengguncang jiwanya seperti berteriak teriak, kecemasan berlebih, susah tidur, mimpi buruk, menghindar dari keramaian atau menarik diri, tidak mau sekolah, bahkan menjadi bahan pencacian makian teman teman sebaya yang pastinya membuat mereka sangat frustasi.

Kedua pada fisik anak, seperti berat badan turun karena ada gangguan pola makan, kurangnya aktifitas, menutup diri, melamun, trauma bergaul dengan seseorang (teman), bahkan membersihkan diri pun juga tidak dilakukan seperti biasanya.

2. Kebebasan

Dalam Islam sendiri term anak sangat bervariasi dan salah satunya ialah Term Ibn yang menunjukkan penekanan makna anak memiliki potensi untuk dikembangkan. Baik melalui pendidikan, pembinaan, dan pemberian bantuan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, potensi tersebut dapat dikembangkan sehingga anak menjadi sebagai individu yang berdiri sendiri.

Sehingga dalam arahan agama ini yang mencangkup term anak menginginkan kita sebagai orang tua memenuhi hak hak anak seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 233 seperti Hak hidup, hak radha’ (nafkah maupun tempat tinggal), hak dipelihara (pertumbuhan fisik dan kesehatan), hak mendapatkan bimbingan agama,  hak pendidikan, dan hak kesejahteraan.

Namun sayang, seiring berjalannya waktu yang disusul dengan kemajuan teknologi kini anak anak malah semakin bebas dan jauh dari pengawasan orang tua.

Kebebasan yang dimaksud dalam perihal ini ialah kebebasan anak dalam penggunaan Gadget dan lingkungan atau bisa dikatakan kurangnya pengawasan atau pendampingan orang tua kepada anak baik itu tentang pergaulan bebas yang melingkup pada pendidikan seks, kesehatan reproduksi maupun pada penggunaan gadget yang bisa dikatakan sangat berpengaruh pada kehidupan anak anak sekarang.

Sehingga pada kali ini tak mengapa jika kita kembali menarik beberapa kasus sebagai contoh kebebasan anak dalam penggunaan Gadget dan pergaulan, seperti kasus anak sekolahan yang merekam aksi mesum mereka yang sempat diviralkan dengan judul “Janganko kasih nyalah blistnya” beberapa waktu yang lalu, ataupun kasus tahun kemarin ketika Kapolres Rejang Lebong, Bengkulu yang malah mengamankan lima anak tersangka dalam kasus pengyalahgunaan narkoba di wilayah tersebut mulai dari menjadi kurir sampai pemakai *Detik.news

Amat memprihatinkan, yang ketika anak anak sekarang malah harus terjun pada dunia pornografi dan penggunaan obat obatan terlarang yang amat merusak moral dan masa depan mereka.

Seperti pada penelitian tiga tahun terakhir Data Komisi Perlindungan Anak menyatakan bahwa 4.500 remaja di 12 kota di Indonesia 97% pernah melihat tayangan pornografi. Begitu juga dikalangan siswa, dari 2.818 siswa, 60% pernah melihat tayangan pornografi *suara.com

Sehingga dari perihal ini sepatutnya sebagai orang tua tentu memiliki beban besar dalam mendidik anak dan tidak memberikan proses pendidikan dan pembimbingan anak pada guru sekolah secara keseluruhannya.

Dan tentu sebagai orang tua tidak hanya diharapkan dalam pengawasan anak pada penggunaan Gadget, melainkan orang tua pun perlu mempekenalkan anak pada dunia bebas seperti pengenalan obat obatan terlarang, dunia seksualitas dan kesehatan reproduksi demi menghindari tindakan anak pada hal hal yang berbaur Sex.

Pertanyaannya kemudian, jikalau anak anak bangsa hampir sebahagiaannya telah dicederai dengan konten pornografi, nakotika, dan kekerasan lainnya.

Lantas bagaimana nasib bangsa kedepannya? Pastinya ini adalah tugas para orang tua dan para guru dalam mendidik anak anak zaman sekarang untuk menjadi pribadi yang berkarakter, bertanggung jawab dan tak lupa memperlihatkan contoh yang baik dalam lingkungan sosial guna membangun bangsa menjadi lebih baik lagi [*].

More in Portal User

To Top