Connect with us

Isu Rasisme dan Perspektif

IMG_20190511_171112

Portal User

Isu Rasisme dan Perspektif

PORTALUSER – Rasisme,kata yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Adanya perspektif yang menganggap diri atau suku lain lebih superior merupakan perspektif  yang  harus dihilangkan di pikiran kita. Adanya diskriminasi rasial yang merujuk kepada pengucilan, pembatasan, pengekangan dan lainnya yang merujuk pada suku,keturunan atau etnis yang akhir­akhir ini timbul di permukaan itu tidak sepantasnya lagi mendapatkan  tindakan “pemakluman”.

Bukan tanpa sebab penulis mengatakan demikian. Kita tidak bisa menutup mata atas ketidakadilan yang terjadi pada saudara kita di timur indonesia itu. Toleransi atas keberagaman , bukankah itu merupakan harga mati yang juga merupakan simbol “bhinneka tunggal ika” ?.

Kamis ,22 Agustus 2019. Mahasiswa papua melakukan aksi protesnya di depan istana kepresidenan. Mereka menuntut hak mereka,menolak rasisme yang merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Secara tidak langsung doktrin pejabat atau penguasa terhadap papua yang menilai  papua adalah masyarakat pribumi yang kolot dan tidak berpendidikan telah membangun persepsi luas di kalangan masyarakat kita.

Secara logika,tentu saja mereka menuntut hak mereka,mereka telah dikucilkan dan di kekang serta dirampas hak nya dalam mengeluarkan pendapat.Bukankah setiap dari kita bebas mengeluarkan pendapat sesuai apa yang telah di atur Undang­Undang?.

Pasal 28E UUD 1945 menjelaskan,”Setiap Orang berhak atas kebebasan berserikat,berkumpul,dan mengeluarkan pendapat” . Hal ini bahkan telah diatur oleh konstitusi,lalu mengapa setiap mahasiswa papua mengadakan pertemuan ataupun diskusi mengapa hal itu dikekang dan dibubarkan serta dianggap sebagai salah satu tindakan separatis?

Terlalu banyak tanda tanya yang seharusnya kita telaah dari jauh akar permasalahannya. Terlalu lama apatis akan suatu hal akan membuat masalah­masalah pelik ini kian menjadi keruh dan akan terus menerus menjadi bulan­bulanan penguasa.

Gelar dan cap yang diberikan kepada papua seperti masyarakat terasing dan olokan lainnya telah membangun steoreotip seakan “kita berbeda” dalam beberapa aspek. Lalu diamnya mereka selama hal itu terjadi kini telah berubah menjadi kemarahan yang menyuarakan ketidakterimaan mereka terhadap hal ini,dan melakukan referendum untuk meminta kemerdekaan atas mereka.

Mereka juga warga negara indonesia yang sudah sepantasnya memperoleh hak yang telah dijanjikan. Hak untuk sejahtera dan memperoleh fasilitas yang setara dengan pembangunan yang dilakukan di wilayah indonesia lainnya.

Dehumanisasi yang terjadi atas papua ini merupakan tindakan rasial nyata yang menjadi permasalahan di masa sekarang. Tidak sepantasnya kita melakukan tindakan bungkam atas apa yang menimpa saudara sebangsa dan setanah air kita disana. Diam atas suatu penindasan merupakan wujud persetujuan akan hal itu.

Pemerintah seharusnya bertindak tegas terkait isu ini,bukan hanya sibuk mementingkan infrastruktur ibukota baru yang menuai kontroversi. Jika masih ingin melihat papua adalah bagian dari indonesia, penuhi hak mereka serta usut semua yang bertanggung jawab atas rasisme ini,atau pemerintah akan terus menerima tindakan protes dari warga papua ataupun masyarakat indonesia lainnya.

Penulis : Nur Afifah Fakhirah Salim

Pekerjaan : Mahasiswa

Kampus : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Jurusan : Hubungan Internasional

Semester 3

Continue Reading
You may also like...

More in Portal User

To Top