Connect with us

Kemerdekaan Hakiki, Adakah di Negeri Ini?

IMG_20190904_053240

Portal User

Kemerdekaan Hakiki, Adakah di Negeri Ini?

Kemerdekaan Hakiki, Adakah di Negeri ini?

Oleh : Nurasia, S.Pd. (Aktivis Muslimah)

PORTALUSER – Tahun 2019 menggenapkan usia kemerdekaan Indonesia di angka 74. Seperti di tahun tahun sebelumnya, hari yang katanya membanggakan dan membahagiakan ini dihiasi dengan berbagai perayaan. Bidang pendidikan khususnya, sekolah-sekolah mempersiapkan dengan matang agenda tahunan ini, mulai dari perlombaan, karnaval, pameran hingga acara puncak pengibaran bendera merah putih. Masyarakatpun tidak kalah antusiasnya dalam mengekspresikan hari kemerdekaan ini.

Selebrasi kemerdekaan yang dirancang megah sudah menjadi hal biasa di suatu negara, termasuk Indonesia. Selalu ada semangat yang berkobar di balik perayaan kemerdekaan suatu negara. Berkunjung ke satu negara ketika negara itu sedang merayakan hari kemerdekaan bisa menjadi pengalaman yang menarik bagi turis. Situs mesin pencari penerbangan, Momondo merangkum sejumlah selebrasi hari kemerdekaan termeriah dari berbagai negara. Indonesia menjadi salah satunya, (kompas.com,17/08/ 2019).

Meredeka, Makna Kata dan Fakta

Merdeka, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bebas (dari penghambaan, penjajahan, dsb.); berdiri sendiri; tidak terikat atau tergantung kepada orang atau pihak tertentu. Bebas yang digambarkan di sini bukan hanya dari bentuk penjajahan saja, tetapi juga penghambaan. Sementara dalam Islam, merdeka adalah terbebasnya kita dari segala penghambaan hawa nafsu dan seraya selalu tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT. Selain dikatakan belum merdeka, orang yang melakukan segala penghambaan hawa nafsu juga digambarkan ancaman oleh Allah dalam firmanNya,

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat:37-39).

Apakah kemerdekaan hakiki ada di negara ini? Seharusnya kita sudah bisa menyimpulkan bersama bahwa Indonesia belum merdeka secara hakiki. Penjajahan fisik seperti yang dilakukan Belanda dan Jepang memang sudah tidak kita dapati tapi tunggu dulu, zaman sudah modern, teknologi semakin canggih dan penjajahan pun sudah dengan gaya barunya. Penjajahan hari ini tidak lagi menyentuh fisik tapi ke pemikiran atau non fisik. Segala sisipun disentuh oleh penjajahan asing, seperti sosial budaya, politik, ekonomi dan pendidikan.

Penjajahan Nonfisik

Misalnya sosial budaya asing yang menjajah otak kaum muda muslim. Freesex merajalela yang akhirnya menghasilkan banyak aborsi, maraknya penggunaan narkoba, LGBT yang sulit dihalangi, tawuran yang seolah menjadi hal biasa dan banyak yang sudah mengikuti tren berbusana, makanan dan pola kehidupan ala barat. Kita bisa akui bersama bahwa dalam bidang politik, ekonomi dan hukum, semua juga masih di bawah pengaruh asing dan membuat negeri ini dalam posisi negara pengekor dan dieksploitasi.

Bidang pendidikan juga bisa kita lihat hari ini, fasilitas sekolah yang kurang memadai dan pembayaran yang terus mendaki tiap tahunnya. Belum lagi sempat muncul isu penghapusan kurikulum agama. Padahal, itu saja sudah tidak menanamkan nilai agama dalam diri pelajar sehingga kurangnya moral dan akhlak yang baik,  keluaran sekolah hanya dituntut untuk kerja dan kerja, ujung-ujungnya materi. Akhirnya tidak terlahirlah generasi yang berkualitas sebab tidak ada pelayanan dan pengurusan yang baik oleh pemerintah. Dalam hal ini Indonesia juga sedang dijajah asing, pemerintah harus senantiasa mengikut pada kepentingan asing tempat utang. Sesungguhnya, penerapan sistem sekuler demokrasi adalah jalan yang sengaja dibuat oleh penjajah untuk melanggengkan penjajahan secara nonfisik.

Meraih Kemerdekaan Hakiki

Lantas, bagaimana kita bisa meraih kemerdekaan hakiki di sistem hari ini ? Ya tentunya kita kembali ke definisi merdeka tadi yaitu bebas dan tidak tergantung pada orang atau pihak lain serta kembali ke definisi merdeka dalam Islam yang tidak menghamba pada hawa nafsu. Satu-satunya yang layak kita jadikan tempat menghamba adalah Sang Khaliq, Pencipta, Pemilik dan Pengatur makhluk. Mengambil dan menerapkan semua yang berasal dari Allah, tanpa terkecuali. Hal ini bisa menjadi kita merdeka secara hakiki karna sejatinya memang hanya Allah yang bergantung padaNya segala sesuatu.

Jadi, Indonesia harus memiliki landasan negara yang jelas, kuat dan benar, tentunya dengan Ideologi Islam. Aturan dan hukum yang diterapkan bersumber dari Alquran dan as-sunnah. Lalu, pemimpin yang menjalankannya dalam negara. Belum selesai sampai di sini, selanjutnya masyarakat juga ikut mengontrol kebijakan-kebijakan negara agar tetap sejalan dengan Islam. Demikian pun individu yang bertakwa dan paham akan Islam agar segala sesuatunya bersandar pada Islam. Inilah yang menjadi tiga pilar pengokoh negara Islam yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan penerapan aturan oleh negara.

Bagaimana agar ketakwaan individu ini bisa lahir, khususnya bagi para pemuda pendobrak perubahan? Tentunya dengan senantiasa mengkaji Islam secara mendalam dan menyeluruh, ikut mendakwahkan ke masyarakat serta berjuang untuk penerapannya. Olehnya itu sahabat, kita memiliki tugas dan kewajiban untuk  terus memerdekakan diri hingga tercapai kemerdekaan hakiki dan kembali menjadi ummat ternaik. Ummat manusia hanya bisa menghamba kepada khaliqnya, hidup dalam naungan syariatNya, dalam sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyah.

Wallahu a’lam bi shawwab.

More in Portal User

To Top