Connect with us

OPINI: Beda Pandangan Politik Itu Biasa, Tapi Jangan Buat Persatuan Tercabik-Cabik

610aa387668150abfff712449895605a

Portal User

OPINI: Beda Pandangan Politik Itu Biasa, Tapi Jangan Buat Persatuan Tercabik-Cabik

PORTALMAKASSAR.COM — Pesta Demokrasi sudah berakhir. Saatnya yang beda pandangan politik kembali bergandengan tangan, menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik.

Meski tak dipungkiri, kata perbedaan, merupakan sebuah kata yang tak jarang dijadikan alasan mengapa kita harus berselisih, saling membenci, dan pada akhirnya saling menjauh.

Seburuk itukah kata perbedaan? Atau hanya kita-lah yang sengaja memperburuk keadaan dan kondisi dengan mengatas-namakan perbedaan?

Mungkin beberapa orang telah begitu sensitif dan fanatik karena sebuah perbedaan, hingga tiap pembahasan apapun itu pastinya akan mengarah pada pilihan paslon terutama pada Capres dan Cawapres.

Sekalipun topik pembicaraan sama sekali tidak mengarah pada kancah politik. Belum lagi ketika para pendukung saling membanding bandingkan kedua paslon, mengeluarkan opini, lalu saling membanding-bandingkan visi misi bahkan dengan kefanatikan politik mereka saling mengumbar keburukan meski sebenarnya mereka belum tentu paham apa yang mereka sampaikan itu.

Lantas Mengapa semua itu bisa terjadi? Tidak lain karena kefanatikan yang membabi buta hingga ujaran kebencian sudah menjadi budaya di tiap perbedaan.

Lucunya, fanatisme akibat Politik bisa membuat seorang atasan rela memecat anak buahnya hanya karena sang anak buah tak sepaham dengan pilihan Bos-nya.

Seorang tetangga yang tak lagi akrab dengan tetangganya hanya karena perbedaan Baliho yang mereka pasang di teras rumah masing masing, bahkan seorang anak dan orang tua yang tak lagi akur, hanya karena sang orang tua menganggap anaknya yang kini Durhaka lantaran tak lagi mendengar arahan darinya. Sungguh luar biasa bukan?

Pertanyaannya, memangnya dalam ajang pesta demokrasi ini kita wajib ikut pilihan Bos? Ngikut tetangga? Atau menyamai pilihan orang tua? Kita bisa saja mendapatkan arahan atau penjelasan mengenai visi misi setiap paslon dari mereka, tapi bukan berarti hak bebas memilih seseorang terampas begitu saja.

Tetaplah menjadi Bos yang baik, tetangga yang ramah dan orang tua yang selalu memahami anak anaknya. Karena Dunia politik bukanlah alasan mengapa kita harus berselisih, namun jadikanlah dunia politik sebagai alasan tentang mengapa kita harus berpikir dewasa dalam menangani sebuah perbedaan.Lantas Bisakah perbedaan itu bersahabat?

Bergenggaman tangan dan saling memahami hingga kefanatikan dan rasa sensitif tak lagi hadir dalam setiap pesta Demokrasi?

Ada banyak contoh contoh besar yang dapat kita tiru akan indahnya perbedaan itu, karena faktanya hubungan antara Jokowi dan Probowo baik baik saja bahkan mereka dengan lapang dada mengatakan bahwa “Kami siap menerima siapa yang akan memimpin Negara ini kedepannya”, lantas mengapa kita sebagai pendukung terlalu emosional dan sedikit ganas hingga tidak rela jika lawan didiamkan begitu saja.

Perlu ada pencacian makian, hinaan, dan mengumbar keburukan sebagai bumbu bumbu penyempurna dalam ajang demokrasi. Dan Ketika yang menang adalah bukan pilihan kita, apakah kita akan rela meninggalkan Negara ini?

Bunuh diri karena dipimpin oleh Kepala Negara yang menurut kita tidak Profesional dan tidak sesuai dengan harapan? Atau kita malah berani membunuh sang Pemimpin karena kita merasa bahwa dia tidak pantas?Pada akhirnya kita akan menerima siapapun yang menjadi seorang Pemimpin bukan?

Untuk itu, buanglah rasa sensitif dan kefanatikan yang membabi buta. Karena sejatinya, ketika kita membenci dan saling menjauhi hanya karena kefanatikan rupanya itu tidak akan berhenti ketika Pesta Demokrasi usai.

Gambarannya ialah, kita telah menerima pemimpin yang sebelumnya kita benci namun tetap saja menjauhi pendukung dari pemimpin tersebut yang semulanya adalah karib kerabat kita sendiri, lantas dimana bibit persatuan Negara kalau seperti itu?

Tetaplah bersahabat, meski pilihan hati kita berbeda. Teruntuknya tersenyumlah pada siapapun itu, dukung dan saling mendoakan Bukan mendukung dan saling menjatuhkan.
Karena terkadang yang fanatik itu adalah mereka yang tidak tahu apa apa, yang menghina itu adalah mereka yang sebenarnya tidak bisa apa apa, dan rela menerima perbedaan adalah mereka yang memahami arti sebuah perbedaan dan dewasa dalam memandang dunia Politik.

Ketahuilah bahwa hidup tanpa perbedaan sangat tidak menarik diperbincangkan, namun jika perbedaan itu hanya menimbulkan perdebatan maka selayaknya kita tidak perlu banyak berbicara. Mengapa?

Karena kedamaian dan ketentraman sangat teramat anti terhadap perdebatan dan kefanatikan. Untuknya, jika kita tidak punya bahan pembicaraan yang lebih berharga ketimbang hanya menjatuhkan lawan dengan opini opini yang tidak jelas, maka alangkah baiknya jika kita membisukan diri saja. (*)

editor2

More in Portal User

To Top