Connect with us

Pelarangan Cadar Berujung Pada Sekularisasi

images 1

Portal User

Pelarangan Cadar Berujung Pada Sekularisasi

Oleh: Fatmala

(Aktivis Dakwah, Mahasiswi Pascasarjana Jurusan Manajemen Unismuh Makassar

PORTALMAKASSAR.COM – Dewasa ini, isu radikalisme kian menggurita. Betapa tidak, isu radikalisme ramai di bahas mulai dari dunia nyata hingga dunia maya. Mulai dari dikusi public hingga di warung kopi.

Ada hal yang menimbulkan kontroversi terkait isu radikalisme. Pasalnya, Menteri Agama Fachrul Razi mewacanakan melarang mengogunakan niqab atau cadar masuk instansi pemerintah. Namun dia menegaskan wacana itu masih dalam kajian Kementerian Agama (Merdeka.com 31/11/2019).

Dengan pernyataan Menag tersebut akan menimbulkan banyak pro dan kontra di tengah masyarakat umum, terkhusus umat muslim. Hal ini tak lepas dari anggapan bahwa cadar masih sering dianggap sebagai ancaman atau halangan dalam mendapatkan pekerjaan bagi Muslimah. Parahnya lagi, banyak kalangan yang berpendapat bahwasanya cadar merupakan budaya orang-orang Arab. Hal ini tentulah merupakan kekeliruan yang nyata.

Sebab, jika kita menilik kembali sejarah ketika belum diutus Rasulullah, digambarkan pakaian asli orang-orang Arab pada saat itu jangankan memakai cadar, menutup aurat saja tidak. Bahkan, merekapun bersolek berlebihan yang tidak dianjurkan dalam islam (tabarruj). Andai saja cadar merupakan budaya arab, maka tentulah wanita-wanita pada masa jahiliyah dikisahkan menggunakan cadar. Sedangkan perintah untuk menutup aurat baru turun setelah Rasul diutus.

Hukum Memakai Cadar

  Cadar adalah ajaran islam, dan hukum asalnya adalah mubah. Tetapi menjadi wajib bagi istri Rasulullah SAW. Jika berbicara tentang cadar maka akan membahas terkait dengan aurat wanita, namun bukanlah sesuatu yang wajib untuk di laksanakan terkecuali menutup aurat dengan kerudung hingga menutupi dada dan jilbab hingga ke seluruh tubuh. Adapun dalil wajibnya menjulurkan jilbab kesuluruh tubuh adalah berdasarkan Firman Allah SWT:

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Ahzab: 59)

Sedangkan dalil tentang wajibnya menjulurkan kain kerudung hingga menutupi dada adalah berdasarkan Firman Allah SWT:

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya….” (Q.S An-Nur: 31)

Dari dalil di atas jelaslah bagaimana kewajiban menutup aurat bagi wanita. Adapun tentang menutup muka adalah mubah. Sebagaimana dikisahkan bahwa Fadhl Bin Abbas membonceng Rasulullah SAW dengan unta dari Muzdalifah menuju Mina. Ditengah perjalanan, mereka berpapasan dengan beberapa wanita, Fadhl terpaku memandang salah satu wanita itu, wanita itupun memandangnya pula, namun Rasulullah SAW cepat-cepat memalingkan wajah Fadhl kearah lain.  

Rasul saat itu tidak lantas memerintahkan wanita tersebut menutupi wajahnya, namun justru meminta Fadhl untuk menundukkan pandangan.

Sayangnya, sebagian orang telah termakan isu buruk soal pemakaian cadar yang sering dikait-kaitkan dengan aksi terorisme adalah sebuah anggapan yang sangat keliru. Karena istri-istri Rasulullah SAW pun pada masanya mengenakan cadar, dan istri Rasululah SAW terkenal dengan ketaatannya kapada Allah. Apakah dengan memakainya cadar istri Rasulullah SAW pantas dikatakan teroris? Saya kira itu sangat tidak pantas. Meskipun para pelaku aksi terorisme bersembunyi dibalik pakaian yang syar’i bahkan memakai cadar maka tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa yang bercadar adalah teroris atau radikal.

Dari penjelasan di atas  sudah sangat jelas bahwa cadar bukanlah ancaman dan bukan pula budaya arab. Muslimah yang mengenakannya hanya ingin menjalankan ajaran Agama islam guna meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Identitas Muslimah Terancam

Saat ini penggunaan atribut islami dijadikan sebagai sasaran empuk untuk mediskreditkan islam. Mereka menyematkan kata radikal bagi kaum muslim yang taat pada agamanya termasuk dalam hal berpakaian. Dalam hal ini bisa dikatakan identitas muslimah juga terancam. Betapa tidak, jika dulu muslimah bercadar diidentikkan dengan teroris, kini mereka tidak diperkenankan memakai cadar mereka demi sebuah profesi.

Inilah dampak dari buruknya penerapan system sekuler yang memisahkan urusan agama dari kehidupan, sehingga aturan agama tidak diperkenankan mengatur urusan dunia. Padahal, islam adalah agama yang sempurna yang jangankan mengatur urusan beribadah, urusan bernegarapun diatur oleh Islam.

Walhasil, mereka, para pengusung ideology sekuler kapitalis, tidak akan tinggal diam ketika ada yang ingin menyuarakan islam. Kata radikalpun didengungkan. Maka tak heran bilamana saat ini penggunaan cadarpun diidentikkan dengan orang-orang yang kerapkali melakukan aksi terror. Mirisnya, tentu saja ini akan menimbulkan islamophobia di tengah masyarakat, bahkan menanam curiga pada sesama saudari mereka yang mengenakan cadar.

Scenario keji ini tentu tidak lepas dari campur tangan penguasa Barat. Sebab mereka tahu bahwa Muslimah adalah darah kehidupan umat Islam. Wanita muslimah memainkan peran yang sangat besar dalam kehidupan keluarganya, yakni sebagai manager rumah tangga, seorang guru pendidik generasi, ibu pelindung untuk anak-anak dan keluarga, dan untuk kelanjutan kepemimpinan umat islam. Sangat berbeda dengan wanita Barat yang didominasi memiliki sifat egois, kebahagian terbesar berdasar pada materi, yang merapuhkan keluarga dan melemahkan generasi. Atas potensi besarnya muslimah, mereka ketakutan akan lahirnya generasi militan dan bangsa kuat yang akan menyingkirkan peradaban Barat Sekuler dan Kapitalis. Sehingga mereka selalu mencari cara untuk menghapus identitas muslimah, terkhusus di Negeri yang mayoritas Muslim ini yaitu Indonesia.

Ajaran Islam Datang Untuk Memuliakan Wanita

      Islam adalah agama yang sangat memuliakan wanita. Sayangnya tidak bagi yang juga mengusung ideology kapitalis sekuler ini yang berupaya mendiskreditkan islam melalui atribut-atribut islam atau pakaian islam. Tak sedikit dari mereka berdalih mengganggu perkerjaan mereka.

Hal yang perlu diketahui adalah sebelum risalah islam datang, umat manusia terkhusus masyarakat Arab hidup dalam kegelapan dan kejahilan, termasuk kaum hawa. Saat itu digambarkan ayah mereka  tega menguburkan bayi perempuannya hidup-hidup karena dianggap bahwa anak perempuan adalah sebuah aib bagi keluarga. Sungguh perbuatan yang keji dan hina.

Setelah cahaya islam datang, kehidupan manusia terangkat dari kejahiliyahan menuju kehidupan terang benderang. Perempuan-perempuan diperintahkan untuk menutup aurat dan tidak lagi menjadi pemuas nafsu bejat laki-laki. Maka islam dengan segala aturannya ada untuk memuliakan wanita. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)

Rasululah SAW juga sering mengingatkan umat muslim untuk memuliakan wanita, di antara sabdanya yaitu :

 “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

Beberapa penjelasan di atas sangatlah jelas bahwa segala sesuatu yang dibawa islam adalah baik. Sungguh hanya islamlah yang mampu memuliakan wanita dan mengangkat martabat mereka, maka tak adala alasan lagi untuk mempertahan ideology sekuler ini yang hanya menempatkan perempuan sebagai penghasil pundi-pundi rupiah dan pemuas hawa nafsu laki-laki.

Wallâhu a’alam bish-shawâb wa shallallâhu ‘alâ nabiyyinâ Muhammad.

 

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Portal User

To Top