Connect with us

Politik Rakyat, Menjual Ataukah Membeli Kembali Indonesia ?

500eca07ef7bf4d28ee1404f10dc107a

Portal User

Politik Rakyat, Menjual Ataukah Membeli Kembali Indonesia ?

Oleh : Rahmi Ekawati

(Aktivis Dakwah dan Tim Penulis PPI)

PORTALMAKASSAR.COM – Politik ala Indonesia telah berhasil menumbangkan esensial pemerintahan dan konsentrasi para ummat di tengah-tengah pelipatgandaan ibadah yang dijanjikan tuhan kepada ummat manusia. Konten yang telah dibangun mulai dari April lalu hingga Mei telah menjadi rujukan berfikir dan bertindak para rakyat.

Eksistensi sebagai kepemimpinan yang telah lama dinanti untuk dilampaui sebagai pendukung setia para pasangan calon pemimpin masa depan Indonesia.

Kampanye janji-janji serta rincian visi misi tertera indah dalam draft terbitan sebagai program menjual ataukah membeli Indonesia kembali. Politik memang unik, ia sebagai alat yang digunakan para capital sebagai invasi bagi manusia yang tak punya nyali.

Alih-alih ingin membangun Indonesia, para elit-elit politik sebagai pendukung salah satu pasangan telah melakukan berbagai cara sebagai bentuk dukungan. Baik secara terlulis maupun lisan disampaikan sebagai bukti empati. Banyak diantara merekan banyak yang saling menjatuhkan, menyindir, mengolok, hingga sampa ke perkelahian. Juga dijadikan sebagai ajang judi gaya baru sebagai pembuktian setia pada pilihan.

Jelang mengetahu hasil Real Count pemilu Mei 2019, sangat banyak terjadi suara sumbang antara rakyat kaya hingga jelata. Dengan informasi sebelumnya bahwa telah terjadi kecurangan pada pemilu yang membuat banyak kekecewaan terhadap KPU (Komisi Pemilihan Umum). Apalagi setelah anggota KPU serentak meninggal tanpa sebab yang tak dipastikan, memuat unsur kecuriaan yang mendalam.

Senin, 20 Mei 2019 -Detik Pemilu- melaporkan tentang hasil suara dari pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Hasil laporan KPU dinyatakan suara Joko Widodo – Ma’ruf Amin mencapai 55,52% dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno mencapai 44,48 %. Di media lain juga ditemukan hasil perolehan suara dalam waktu yang sama.

TribunJogja.com menyebutkan bahwa Joko Widodo – Ma’ruf Amin dengan perolehan suara 3.864.982 (54,72%) sedangkan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno dengan perolehan Suara 3.198.455 (45,28 %).

Berdasarkan data di atas, banyak yang telah menarik kesimpulan bahwa yang menajdi pemenang dalam Pilpres kali ini adalah pasangan nomor urut satu. Sehingga pendukung dari pasangan nomor urut dua pun melakukan strategi dengan mengerahkan sebuah konsep yakni People Power karena menganggap hasil suara tersebut adalah bentuk kecurangan secara terstruktur yang dilakukan rezim hari ini.

Krisis politik, krisis, ekonomi, krisis pendidikaN, krisis dan krisis lagi. Lalu krisis apalagi yang tak dimiliki Indonesia ? semuanya telah komprehesif bersama seperangkat sistem yang telah disusun sejak awal kemerdekaan hingga hari ini. Krisis kepemimpinan, inilah kalimat yang cocok untuk zaman politik. Jangan heran ketika Indonesia tak mampu menguasai dunia global dan berubah menjadi negara maju sampai 74 tahun kemerdekaan.

Pemimpin yang seharusnya mampu mengurusi dan melayani rakyat, justru sibuk dengan kepemimpinan yang harus diperebutkan dengan segala cara. Kepemimpinan hari ini sangat menggigit, tak heran bangku kekuasaan tak ingin diberikan kepada yang lain.

Akibat dari zona aman yang dicerna selama menjabat. Para pemimpin tak pernah berfikir mengenai bagaimana menerapkan tanggung jawab, tetapi selalu tertanam tentang Hak. Dan akhirnya mereka pun krisis tanggung jawab, miskin komitmen dan fakir pelayanan. Mau dibawa kemana negeri ini ? ketika para pepimpin hanya berlomba meraih kekuasaan untuk sebongkah uang.

Mari kita membaca sejarah silam yang hampir terlupakan. Sejarah kekhilafahan Islam saat menduduki dunia selama kurang lebih 14 abad lamanya. Siapa yang tak kenal Umar bin Abdul Aziz, yang hanya menjabat selama 2 tahun tapi digelar sebagai Khulaurrasyidin yang ke-5.

Dimana pada masa pemerintahannya tak ditemukan orang miskin, sampai para pemuda yang tak mampu menikah akan dibayarkan pernikahanya oleh negara. Pada masa pemerintahan Utsmaniyah di bulan Ramadhan, seluruh anak-anak kecil diberikan baju untuk hari kemenangan, pintu-pintu rumah mereka dibuka, agar yang ingin berbuka puasa bisa masuk ke rumahnya. Bahkan ada pemimpin yang tak ingin mengunakan lampu pada malam hari, jika itu bukan membicarakan hak-hak rakyat.

Karena lampu itu adalah milik negara yang harus digunakan untuk negara. Juga Abu Bakar as-Siddiq yang setelag kepeimpinannya berpindah ke Umar bin Khattab, beliau pun memberikan sisa kekayaan milik negara untuk dikelola oleh pemimpin yang baru.

Hal di atas seperti dongeng pengantar tidur yang mungkin sering kita dengar. Tapi ini bukan cerita rakyat yang harus kau tutup telinga, tapi inilah fakta yang terjadi saat Islam berkuasa di muka bumi. Ketika Khilafah masih berdiri tegak dan memimpin ummat manusia.

Sayangnya, telah runtuh pada 3 Maret 1924 di Turki. Inilah bentuk perjuangan yang harus dilakukan agar Indonesia tak mengenal krisis. Siapapun pemimpinnya jika bukan sistem Islam yang terapkan maka dua kemungkinan yang akan terjadi Indonesia dijual ataukah dibeli kembali.

More in Portal User

To Top