Connect with us

Ramadhanku di Negara Persaksianku

JPEG_20190430_084322_

Portal User

Ramadhanku di Negara Persaksianku

Oleh : Rahmi Ekawati

PORTALMAKASSAR.COM – Aku masih disini, di tempat persaksianku. Tempat dimana aku hidup bersama deretan gedung, menyaksikan lalu lalang kota bersama suara bising mesin dan knalpot yang mengeluarkan asapnya. Juga stimulus desa yang harus mengorbankan diri dan tanahnya untuk keputusan para pemilik dasi sebagai pelengkap di negeriku.

Aku pun menyaksikan bagaimana hebatnya para berjas hitam menandatangani kontrak tanah kami untuk orang asing lalu pribumi mengemis tak tahu diri. Dan itu telah terjadi 11 bulan yang lalu sebelum memasuki bulan yang kata orang disanalah para koruptor akan taubat dan para pemilik modal akan bersedekah pada pribumi yang masih tetap tak tahu malu.

Sebuah kisah yang telah dirajut 11 bulan yang lalu. Cerita yang  menyambut satu bulan yang tiada bandingannya diantara 11 bulan berlalu, yakni Ramadhan. Masih teringat kisah Nabi Yusuf yang ditenggelamkan oleh 11 orang saudaranya di sumur akibat iri hati diantara mereka.

Hingga mereka tahu Yusuf masih hidup lalu meminta maaf atas segala yang dilakukannya kepada saudaranya tersebut. Nabi Yusuf pun memohonkan ampun kepada Allah untuk saudaranya dan mengatakan bahwa dia telah memaafkannya.

Begitulah Ramadhan memandang kita sebagai manusia yang memasuki bulan suci dengan bergelimang dosa, lalu keluar darinya seperti sebuah bayi yang baru lahir keadaan fitrah tanpa dosa. Maka dikatakan bahwa barangsiapa yang memasuki Ramadhan lalu meninggalkannya tanpa dimapuni dosa-dosanya, maka ia termasuk orang yang celaka.

Kini, ramadhan itu sudah mengelilingi tubuh kita dengan suara-suara parau para ulama menjelang tidur. Bangun pagi pun disambut dengan adzan merdu yang menyayat hati mengingat dosa. Juga salawatan silih berganti yang mengharuskan mengingat Nabi sebagai pemimpin ummat Islam.

Tak lupa pula kaki-kaki yang berdiri tegak pada malam hari meski letih. Ramadhan memang ajaib, hingga mampu mengubah jiwa-jiwa manusia 180 derajat. Tadarrus mengalihkan kehidupan, dzikir-dzikir mengiringi waktu berdetik lalu pergi.

Sayangnya, setelah Ramadhan banyak yang kembali bejat dan kejam. Esensialnya sangat memprihatinkan diri dan juga negara. Diri-diri menjadi alim berlagak ustadz dan ustadzah, kerudungan, memakai songkok dan menjelang subuh menepuk beduk sambil meneriakkan “Sahur,, sahur,, sahur..” Disisi lain sekularisasi pun menjalar dimana-mana.

Pagi hari mereka menahan diri dari lapar dan dahaga tapi tetap pacaran, tarawih khusyu’ juga riba menjadi makananan, shalat sunnah pun dieksekusi namun hukum taghut (mengambil hukum selain hukum Allah) pun dipersekusi.

Jangan tanya negara yang harus berpura-pura sok tahu agama, juga berbagi ta’jil dan sedekahan dimana-mana. Tapi mereka cerdas, kebajikan mengelabui licik mereka yang mendalam. Menzalimi rakyat, dengan berbagai perjanjian. Janji-janji manis, juga palsu, juga tak segan tanda tangan surat janji atas asas kesejahteraan.

Negara yang katanya mengayomi rakyat, mengadili manusia-manusia jelata di pinggiran jalan meminta untuk disuap nasi sepiring. Pemilihan umum yang akan menentukan siapa pemimpin masa depan negara kita, aku pun bersaksi atas itu. Mengapa harus berlomba jadi pemimpin ? sedang menjadi pemimpinlah menentukan anda bisa mendapatkan naungan di padang mahsyar atau tidak. Bukan hanya memikirkan hak tapi tentang kewajiban, itulah seorang pemimpin.

Ramadhan ternyata tak cukup mampu mengubah negaraku tempatku bersaksi kelak di hadapan Allah. Ramadhan bukan hanya momentum perubahan secara parsial tetapi mampu mengubah secara holistik dalam segala sistem di negara menjadi aturan Islam.

Karena hanya Islam yang mampu mengubah segala kerusakan yang terjadi di muka bumi. Penerapan Islam menjadi bagian penting dan wajib atas seluruh tempat persaksian di dunia ini. Juga hukum taghut harus dicampakkan agar masalah tak bertebaran.

Continue Reading
You may also like...

More in Portal User

To Top