Connect with us

Saatnya Berharap Meraih Malam Seribu Bulan, Yuk Mari Bertakziyah!

images

Portal User

Saatnya Berharap Meraih Malam Seribu Bulan, Yuk Mari Bertakziyah!

PORTALMAKASSAR.COM – Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

(QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Dalam tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini dijelaskan bahwa Allah swt., ber-Khitab kepada orang orang mukmin dari kalangan umat ini dan memerintahkan kepada mereka untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan dan minum serta bersenggama dengan niat Ikhlas karena Allah.

Karena di dalam berpuasa terkandung hikmah membersihkan jiwa, menyucikan serta membebaskannya dari endapan endapan yang buruk (bagi kesehatan tubuh) dan akhlak akhlak yang rendah.

Bulan yang lebih baik dari seribu bulan, ya itulah julukan dari bulan Ramadhan, maka wajar jika sebagai umat islam pastinya akan berusaha meraih kebaikan kebaikan bahkan mengidam idamkan malam seribu bulan tersebut. Untuk itu, mari kita simak empat perkara penting yang dapat kita jadikan sebagai bentuk Tazkiyah diri terkhusus di bulan Ramadhan ini dengan harap diri kita dapat meraih malam seribu bulan itu, Insya Allah…

1. Menjadikan Puasa sebagai Perisai

“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah berkata keji dan berteriak teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah ‘aku sedang berpuasa’ “ (HR. Bukhari dan Muslim)

Berpuasa di bulan Ramadhan rupanya menjadi perisai bagi diri kita baik di dunia maupun di akhirat. Mungkin kita sudah tahu jelas akan arti makna dari perisai itu sendiri. Yakni alat besi yang digunakan para pendekar terdahulu guna melindungi diri dari berbagai gangguan luar, baik berupa seretan pedang maupun berupa lemparan bebatuan dan lainnya.

Tidak bisa dibayangkan jika rupanya puasa adalah perisai diri kita selama beberapa hari kedepan? Dimana perisai dunia itu ialah melindungi diri kita dari berbagai macam godaan, karena faktanya? Di bulan suci ini memiliki 1001 godaan yang dapat menghambat ibadah kita sekalipun Rasulullah saw., mengatakan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh imam Al Bukhari dan Muslim

“Apabila datang bulan Ramadhan maka dibuka pintu pintu Surga dan ditutup pintu pintu dan syaitan syaitan dibelenggu”

Sekalipun Setan dibelenggu oleh Allah untuk sementara namun bukan berarti kejahatan atau godaan godaan buruk hilang begitu saja bukan? Karena sejatinya? Syaitan sendiri berasal dari dua kalangan, pertama berasal dari kalangan Jin dan yang kedua berasal dari kita sebagai manusia (QS. An-Nas [114]: 6). Dan khusus di bulan Ramadhan ini, kita tengah berjuang melawan berbagai godaan syaitan yang berasal dari kalangan manusia.

Sedangkan dalam tafsir lain yang dikemukakan oleh Ad- dawudi dan Al-Mahlab dijelaskan bahwa makna dari Syaitan yang sedang dibelenggu maksudnya ialah dalam bulan Ramadhan Allah menjaga orang orang Muslim atau mayoritas mereka secara umum dari kemaksiatan, serta kecenderungan untuk mengikuti bisikan dan godaan syaitan (Lihat Ibu Banthal, Syarhu shahih al-Bukhari, Juz IV).

Itulah mengapa pentinya kita menjadikan puasa tersebut sebagai perisai diri guna jauh dari berbagai godaan godaan berupa pandangan, godaan dalam mendengar berita buruk hingga kita pun ikut berkomentar, atapun godaan dalam bergosip yakni berbicara pada hal yang tidak penting (sia sia) dan menjauhi topik pembicaraan yang mengantarkan kita pada lisan yang dibungkus dengan kedustaan.

Bahkan dijadikannya puasa sebagai perisai pun dikhususkan Rasulullah dalam salah satu sabdanya bagi seorang lelaki,

“Wahai para pemuda! Barangsiapa yang sudah memiliki kemampuan (Biologis maupun materi), maka menikahlah. Karena hal itu lebih dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu (menikah), maka hendaklah dia berpuasa karena hal itu menjadi benteng baginya” (HR. Bukhari dan muslim )

2. Menjadikan puasa sebagai Penebus dosa

Betapa indahnya puasa itu, selain menjadi perisai rupanya Allah pun menjadikannnya sebagai penebus dosa yang telah berlalu. Lantas apalagi yang membuat kita malas bahkan berpikir bahwa kita tidak perlu berpuasa lagi?

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 38 dan Muslim, no. 760)

Namun dalam hal ini, imam An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang populer di kalangan para ulama ahli fikih ialah bahwa dosa-dosa yang terampuni dengan melakukan puasa Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil dan bukan dosa-dosa besar (lihat Al-Minhaj, 4/76). Dan Hal ini tercantum dalam hadits Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw., bersabda,

“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim, no. 233).

3. Menjadikannya sebagai ladang pahala

Tak heran jika bulan Ramadhan dijadikan sebagai bulan meraih pahala sebanyak banyak mungkin. Bukankah dalam ibadah atau kebaikan apapun itu Allah akan lipat gandakan pahalanya dan sistem lipat ganda yang seperti ini hanya dikhususkan Allah di bulan Suci Ramadhan saja.

Seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud ra., bahwasanya Rasulullah saw., bersabda

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf,” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 6469)

Dari penjelasan Hadits diatas maka bisa dikatakan amat begitu wajar jika hampir seluruh muslim dan muslimah menargetkan untuk khatam Al-Qur’an sampai berkali kali di bulan Ramadhan karena memang pahalanya amat begitu dahsyat. Selain itu, tindakan yang bisa dikatakan sebagai ladang pahala lainnya ialah membahagiakan orang yang berpuasa, baik karena membagikan makanan, membangunkan orang yang sahur ataupun hal yang lainnya yang membuat orang berpuasa amat bahagia.

Berbicara tentang Khatam Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena pahala yang dilipat gandakan sepertinya akan jauh lebih mengagumkan jika kita lirik kehebatan Imam Syafi’i dalam mengkhatamkan Al-Qur’an yang kononnya mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama sebulan. Di siang harinya sekali dan malamnya sekali. Dan kita? berapa target khatam kita dibulan Ramadhan ini demi menambahkan nilai pahala kita? Namun apakah hal ini menandakan bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebuah kewajiban?

Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalil Al-‘utsaimin ketika ditanya dengan pertanyaan serupa, maka beliau menjawab bahwasannya mengkhatamkan Al-Qur’an tidaklah wajib akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an.

4. Berharap dengan puasa akan membuat diri kita Terbebas dari percikan api Neraka

Selain sebagai perisai diri, penebus dosa dan ladang pahala, rupanya yang ke empat ialah berharap semoga puasa yang selama sebulan penuh ini kita jaga dengan baik dan berharap Ridha Allah rupanya akan membuat kita jauh dari Neraka. Subhanallah, betapa wajibnya kita berpuasa dan meraih keridhanan Allah

“Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari Neraka sejauh tujuh puluh musim” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah menjelaskan, “Maksudnya puasa adalah penghalang antara dirinya dengan api neraka. Hal ini mencakup puasa yang wajib seperti puasa Ramadhan dan juga puasa sunnah seperti puasa enam hari di Bulan Syawal, puasa senin-kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa Dzulhijjah, puasa ‘Arafah, dan puasa ‘Asyura” (Lihat Al-Minhatu Ar-Rabaniyyah fii Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyyah).

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Portal User

To Top