Connect with us

Smartphone dan Budaya Baper

IMG_20190421_234042
Portal User

Portal User

Smartphone dan Budaya Baper

PORTALMAKASSAR.COM – Aku berlari mengitari senyuman, tetapi senyuman itu bukan untukku. Aku berjalan di sekitar sapaan, tetapi sapaan itu tak tertuju buat. Aku berdiri ditengah tengah kepedulian, tetapi kepedulian itu enggan kepadaku. Senyuman, sapaan, kepedulian hanya tertuju pada layar mini pada genggaman.

Ahh… sebegitu hebatnya kah layar datar itu, sampai mengalahkan sisi-sisi senang pada diriku.

Fenomena pemakaian smartphone telah menjadi gaya hidup di kalangan muda mudi. Mulai dari remaja hingga dewasa, mereka yang percaya bahwa smartphone sangat membantu dalam mengeksistensikan diri atau bahkan dalam hal mencari pujaan hati.

Smartphone yang memberikan kemudahan dalam mengakses berbagai media sosial, memungkinkan kita dapat berkomunikasi dengan keluarga yang jauh, teman yang jauh atau orang yang tak dikenal juga.

Tak sedikit juga yang membuat smartphone sebagai alat yang diperoleh informasi terbaru atau alat untuk menuangkan rasa simpati/ empati ke berbagai media sosial.

Luar biasa yah smartphone ini, lambat laun mungkin dia akan menjadi kebutuhan primer bagi kita. Buktinya di Inggris ada seorang psikolog yang bernama Steve Pope pernah mendapat seorang pasien yang kecanduan smartphone tingkat akut.

Sebegitu melekatnya smartphone di kehidupan kita juga memiliki perbedaan lain, seperti penelitian di manado yang mengatakan lebih mudah mengakses media sosial di smartphone terkait dengan kejadian insomnia di kalangan remaja.

Namun bagi saya, dampak dari penggunaan smartphone yang paling terasa dari pola interaksi yang semakin berbeda dari zaman ke zaman.
Ada dua fenomena yang saya lihat dari penggunaan smartphone dan pola interaksi yang diciptakannya.

Pertama, orang yang lebih tertarik untuk berpartisipasi di dunia maya, dibandingkan langsung dengan orang di sekitarnya. Kenapa demikian? Ya jelas karena ini adalah tren yang kekinian pada zaman modern ini.

Masyarakat modern yang hanya perlu berbicara dengan individu yang berkepentingan, menggunakan smartphone yang digunakan agar lebih efektif dan efisien untuk terlibat.

Mereka tidak lagi memilih untuk berpartisipasi secara langsung karena mereka tidak ingin terlibat dalam percakapan yang basa-basi. Seperti yang diungkapkan Dina Febriani dalam artikelnya di mojok dot co, manusia modern tidak lagi memuji basa basi. Tujuan pembicaraan.

Kedua, masih terkait dengan fenomena ponsel cerdas dan pola interaksi, ada informasi sosial yang dibuat oleh masyarakat modern saat ini. Durkheim mengatakan, masyarakat kota memilih untuk melupakan suatu anomi atau meminta spontanitas pada seseorang.

Dimana kepekaan pribadi terhadap lingkungan semakin berkurang. Namun, dengan melihat gaya hidup menggunakan smartphone saat ini, spontanitas/kepekaan pribadi (maya) lebih terbentuk daripada spontanitas/ kepekaan pribadi (nyata).

Individu yang menggunakan smartphone sebagai alat menuangkan kepeduliaannya, perhatiannya, rasa ibanya terhadap beberapa masalah di lingkungan sosial ke media sosial.

Sementara di satu sisi, saat mereka sibuk mengumbar empati di media sosial, mereka tidak sadar akan menarik kepekaannya terhadap tantangan di lingkungan sekitarnya (nyata).

Mereka terlalu asyik menyimak masalah sosial yang ada di media sosial melalui smartphone-nya, sedangkan masalah yang harusnya mereka bahas melalui interaksi langsung di lingkungan sekitarnya, malah mereka abaikan.

Inilah yang saya sebutkan dengan gejala anomi nyata (kepekaan pribadi di lingkungan sekitarnya).

Fenomena perubahan pola interaksi karena smartphone memberi kesan yang begitu memprihatinkan. ada perubahan perilaku yang terjadi pada manusia modern saat ini yang mulai membudaya, yaitu sikap mudah “baper”.

Meskipun kata ini belum pernah ada di kamus besar bahasa indonesia, tetapi kata ini sudah sangat akrab di telinga kita. Kata baper mulai marak digunakan sejak tahun 2014-2015.

Baper merupakan singkatan dari bawa perasaan, yang dimaksudkannya adalah seseorang yang menyaksikan atau mendengarkan suatu hal, kemudian perasaannya terbawa oleh apa yang disaksikan atau didengar sebelumnya.

Saat ini manusia lebih mudah terbawa perasaan atau lebih mudah tersinggung oleh hal-hal yang ada disekitarnya. Seringkali mereka mudah tersinggung oleh tindakan atau perkataan orang lain terhadapnya.

Timbul rasa ketidakpercayaan terhadap orang-orang yang lebih disukai karena anggapan negatif lebih sering muncul dibandingkan anggapan positif terhadap seseorang.

Rasa ketidakpercayaan dan rasa buruk sangka ini terkait dengan kurang intimnya interaksi yang kita lakukan antar sesama. Penggunaan smartphone telah memudarkan nilai sosial dari interaksi langsung dengan lingkungan sekitar.

Bagaimana mungkin kita bisa mengenal keluarga atau mengenal pribadi seseorang dengan baik bila berinteraksi yang dilakukan hanya melalui dunia maya (media sosial) dan interaksi hanya sebatas kepentingan serta kepekaan hanya untuk dipertontonkan di dunia maya.

Sikap “baper” hanya akan memperkeruh hubungan emosional antar sesama dan yang tercipta hanya untuk kepentingan berlandaskan kepentingan. Seharusnya menggunakan smartphone yang ditujukan untuk membantu kita agar lebih mudah mengakses interaksi langsung, bukan untuk memunculkan sikap baper yang berlebihan.

Sesekali ciptakanlah interaksi yang berlandaskan ketulusan, bukan berlandaskan kepentingan agar kita dapat saling mengenal lebih baik. Budaya baper harusnya kita tempatkan pada tempat, seperti kita harus baper kompilasi melihat anak-anak berjalan, kita harus baper saat teman kita perlu bantuan ataukah kita harus baper saat smartphone telah memenangkan sisi-sisi yang membantu pada kita.

Mulailah merasa adil dalam menggunakan smartphone, karena orang disekitarmu juga meminta senyuman, sapaan dan kepedulian darimu.

Continue Reading
You may also like...

More in Portal User

To Top