Connect with us

Spesial Hari Ibu Kartini: Tulolo Zaman Now vs Tulolo Jaman Rioloe

Pakaian Adat Wanita Makassar
Dok. Portal User. (Nonna)

Portal User

Spesial Hari Ibu Kartini: Tulolo Zaman Now vs Tulolo Jaman Rioloe

“Tunai ri kana-kana tutui ri panngaukang
Ma’baji’ ampe ma’baji’ ampe
Alusuri panggaukang
Tulolonna Sulawesi
Tulolonna sulawesi”

PORTALMAKASSAR.COM – Mungkin tidak asing lagi mengenai sekilas lirik lagu Tulolonna Sulawesi seperti yang dituliskan diatas bukan? Lagu yang menggambarkan Ciri khas gadis Sulawesi yakni sopan santun dalam bertindak dan tutur halus dalam Bercerita.

Tulolo sendiri berasal dari bahasa Bugis atau bahasa Makassar yang diartikan sebagai anak gadis atau dikenal pula dengan sebutan ana’ dara. Namun Kali ini sebelum jauh membahas mengenai Tulolo zaman now (Gadis/Perempuan zaman Sekarang), alangkah baiknya  jika kita pun flashback  pada kehidupan Tulolo jaman Rioloe (Gadis/Perempuan jaman Dulu).

Jika mempertanyakan kabar Tulolo jaman Rioloe kepada kakek nenek kita, jelas mereka akan menjawab bahwasanya Tulolo jaman Rioloe  hanya tinggal di rumah sampai sang jodoh datang menjemput dan dibawa pergi ataupun dijemput lebih dulu oleh sang maut.

Sesempit itukah dunia Tulolo jaman Rioloe? Bisa dikatakan iya, karena memang para orang tua terdahulu sangat menjaga Martabat anak gadis mereka, hingga mereka hanya bisa berdiam diri atau menghabiskan waktu di dalam rumah dengan aktivitas sebagaimana perempuan pada mulanya.

Seperti memasak, menyapu, mencuci dan lainnya. Bahkan untuk keluar rumah pun  mereka mesti menutupi kepala mereka dengan sarung panjang sambil menundukkan kepala,  dikarenakan sifat malu mereka yang teramat besar jikalau berpandangan dengan orang lain terlebih jika seorang lelaki yang sebaya dengannya (Tarungka/anak muda).

Namun seiring berjalannya waktu atau bahasa Anak muda zaman now ialah
“Setelah raja api menyerang semuanya pun berubah” tapi jangan salah sangka, perubahan Tulolo kini pastinya diharapkan ke arah yang lebih baik Terlebih dibidang pendidikan seperti yang telah diharapkan Ibunda Raden Adjeng Kartini (1879-1904).

Tak dipungkiri lagi akan terlarangnya Tulolo Jaman Rioloe dalam menuntut ilmu. Jika boleh palingan hanya sampai di bangku Sekolah Dasar saja, itupun sudah keberuntungan besar jika mereka benar benar tamat dan mendapatkan Ijazah.

Kalau kata orang tua Sih Yang penting bisa baca dan bisa ngitung plus bisa ngaji. Sebab menurut mereka yang namanya tulolo (Gadis atau perempuan) bagaimanapun berpendidikannya, pada akhirnya akan menjadi seorang istri sekaligus ibu yang tinggalnya di rumah.

Memang benar dan sepantasnya memang seperti itu, bahkan  dalam pandangan Agama Pun sewajarnya seorang perempuan adalah dia yang  melayani suaminya dengan baik dan mengurus anak anaknya.

Namun bukan berarti perempuan tidak diperbolehkan menuntut ilmu dan ketinggalan di era kemajuan seperti sekarang ini, kalaupun mereka bekerja itu masih sah sah saja selama Kewajibannya sebagai seorang Istri dan ibu tidak dilewatkannya.

Untuknya akan kusampaikan terimakasihku kepada Ibunda Raden Ajeng Kartini untuk kesekian kalinya.
“Terimakasih banyak Dariku dan dari para Tulolo Zaman Now, karenamu kami dapat mengenyam bangku pendidikan kapan dan dimanapun itu bahkan karena-Mu Perempuan dan laki laki kini disetarakan dalam hak menuntut Ilmu”.

Karena memang Perempuan pun bisa sehebat para laki laki selama mereka diberi kesempatan yang sama. Mungkin selain Ibu Kartini yang beranggapan pentingnya pendidikan dan perihal kesetaraan gender, dapat kita lihat seperti Amina Wadud (1952) dan Bintus Syathi’ (1913).

Yakni dua sosok wanita hebat dalam bidang agama. Dimana Bintus Syathi’ yang merupakan Ahli Tafsir  perempuan sekaligus Sastrawan Mesir, Padahal Profesi sebagai Ahli Tafsir sendiri  didominasi dari kalangan laki laki bukan? Lain halnya dengan Amina wadud yang merupakan seorang Filsuf Wanita yang memang telah menyetarakan lelaki dan perempuan dalam berbagai segi, bukan hanya dalam hak menuntut Ilmu (pendidikan).

Jika membahas tentang tulolo zaman Rioloe saya jatuh ingat pesan nenek ketika hendak pamit ke Rutinitas perkualiahan, maka dengan logat mangkasa’ kentalnya akan terdengar jelas dari bibir tuanya.

“Lompo kasukkurang mange rikau nak, ikatte iyya riolo tena ribebasa’ aklampa bella kammayya kau ngaseng, aklampa akboya panngusengan anna Jago na teaia ladongo kammayya tau toa kammayya katte anne, nasaba katte iyya cakdi cakdi injaki na maemaki ripassuroi nampa ampilari tau toata’ Bajiki nia’nu Rilampannu anakku, jaga kalennu nasabak punna teaiyya i kau anjagai kalennu na tenamo yya anjagai” .

Artinya ialah “Rasa syukur yang sangat teramat besar kepadamu Nak, orang dulu ketika berusia sepertimu tidak sebabas ini, untuk itu pergilah menuntut ilmu dengan harap kau tak sebodoh kita yang sudah tua ini, sebab dulu kami yang masih kecil sudah dilamar dan meninggalkan orang tua.

“Luruskan niatmu, jaga dirimu baik baik sebab yang bisa menjaga dirimu hanyalah dirimu sendiri”.

Jika mendengar pesan pesan orang tua dulu, jelas kedengaran bahwa masa kanak kanak mereka sangat jauh berbeda dengan zaman kita sekarang ini.

Namun bukan berarti taulolo jaman Rioloe sangat tertinggal, kolot dan tidak tahu apa apa. Sungguh, Ketahuilah duhai Tulolo Zaman Now akan rasa malu dan tingkat kepatuhan Tulolo Jaman Rioloe terhadap orang tua dan  adat sangatlah dijunjung tinggi oleh mereka.

Namun bukan berarti pula Tulolo zaman now telah memudarkan semua itu, meskipun kemajuan zaman terutama pada kemajuan Teknologi Sedikit demi sedikit merusak para taulolo seperti pengaruh Media sosial.

Namun pada akhirnya itu terjadi karena kelalaian pribadi Dari Tulolo itu sendiri. Salah satu contohnya mungkin yang seperti gaya Berpacaran Tulolo zaman now yang  diperlihatkannya di media sosial.

Sedangkan di jaman rioloe sendiri tidak dikenal istilah pacaran bukan? Sekalipun ada yang dikenal dengan istilah “Bajuang” yakni kabar tentang dekatnya seorang tulolo dan tarungka, namun jika perihal ini diketahui oleh kepala desa, seorang ayah atau seorang sepuh dikampung tersebut maka jelas mereka akan ditenggelamkan dilaut atau diberi hukuman keras lainnyaa, karena memang orang tua dulu sangat menjunjung tinggi yang namanya rasa malu.

Sedangkan sekarang? Jangankan mendengar kabar kedekatan antara Tulolo dan Tarungka, melihat secara langsung pun sebagian orang tua hanya mendiaminya dan  beranggapan bahwa hal tersebut sudah teramat biasa.

Namun sekali lagi jangan salahkan Kemajuan Teknologi atau kemajuan Zaman, karena faktanya banyak perempuan perempuan hebat  diluaran sana hanya karena menuangkan ide Kreativitasnya di dunia teknologi bukannya lalai dalam mengikuti arus kemajuan Zaman.

Untuknya, tetaplah menjadi Tulolonna Sulawesi yang dikenal ma’baji’ ampe
siagang Alusuri panggaukang, sekalipun kita sudah teramat jarang menggunakan baju bodo dan lipa’ sakbe (Sarung Sutra) dilengkapi dengan yang ada bunga di sanggul.

Serta Tulolo yang amat bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu seperti apa yang telah diharapkan oleh Ibunda R.A. Kartini.

#SelamatHariKartini

More in Portal User

To Top