Connect with us

Tradisi Ta’awun dalam Membangun Kesejahteraan Umat

IMG_1012

Portal User

Tradisi Ta’awun dalam Membangun Kesejahteraan Umat

PORTALUSER – Ta’awun pada dasarnya merupakan proses menjadikan suatu pekerjaan susah menjadi mudah. Ta’awun yang asalnya dari bahasa arab yang berarti “ saling menolong, saling membantu, bekerjasama, saling mendukung, saling melapangkan, dan saling menyokong”.

Secara general, ta’awun lebih dikenal di mata masyarakat dengan makna “tolong menolong”. Dalam agama Islam, ta’awun atau tolong menolong merupakan ajaran dasar yang menjadi akhlak kaum manusia. Sikap tolong menolong sangat mulia dan dianjurkan dalam agama Islam, perilaku ini terukir dalam Al-Quran surat al- Maidah ayat 2 yang menjelaskan yang artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.

Tolong menolong dalam jalan kebaikan adalah perintah yang sangat dianjurkan dengan maksud membantu meringankan beban seseorang tanpa mengharap imbalan.Di Indonesia tolong menolong merupakan budaya luhur masyarakat yang mulai terkikis dengan perkembangan zaman yang lebih modern.

Teknologi yang semakin canggih membuat manusia tanpa sadar mulai meninggalkan budayanya.Jika kembali berkaca dengan melihat kebiasaan orang dulu, maka didapatkan bahwa mereka sangat menjunjung tinggi perilaku tolong menolong. Mereka yakin dan percaya bahwa di dalam perilaku tolong menolong terkandung nilai persatuan yang akan mengantarkan pribadi sesorang saling menghargai dan menghormati tanpa memandang agama, ras, maupun suku.

Indonesia mendapatkan kemerdekaan di satu sisi karena semangat juang dengan persatuan, yakinlah bahwa semuanya itu lahir dari tradisi mulia yaitu tradisi ta’awun atau tolong menolong.Sayangnya, zaman ini Sering kali terlihat masyarakat lebih memilih untuk bersikap apatis. Mementingkan kepentingannya pribadi tanpa berpikir itu akan menyakiti atau membawa dampak negatif ke orang lain dan juga enggan untuk membantu saudaranya yang kesusahan. Matinya nilai sosial yang ada di masyarakat mengantarkan manusiakepadaperilakuyang tidak bermoral.

Tenggelamnya rasa kepedulian,rasa hormat, nilai atau nurani, dan pandangan terhadap keadilan membutakanmasyarakat akan hukum dan keadilan. Tanpa disadari manusia akan diarahkan dengan kesibukan –kesibukan tidak terdidik.Dari hal sederhana diatas menunjukkan sifat mulia ini sudah banyak yang tinggalkan. Ditinggalkan dalam suatu komunitas atau kelompok sampai tatanan masyarakat sosial pada umumnya.

Maka wajarlah jika ekspektasi tidak seindah dengan realita, dimana tujuan suatu individu,kelompok sampai negara pun butuh fase yang lama bisa tercapai. Indonesia didiami oleh masyarakat yang homogen, bisa dipandang dengan perspektif sosial dengan stratanya atau perspektif ekonomi dengan pendapatannya. Suatu masyarakat akan merasakan kesejahteraan ketika beban terasa ringan dalam kehidupannya. Tekanan beban hidup akan berguguran disaat kegembiraan dan kebahagiaan telah menyelimutinya. Kegembiraan akan didapatkan dengan mengimplementasikan perilaku ta’awun dalam roda kehidupan. Senang melihat orang bahagia dan sedih melihat orang kesusahan.

Tradisi ta’awun memiliki potensi besar dalam membangun ekonomi umat. Masyarakat kurang mampu akan dibantu oleh masyarakat mampu. Masyarakat yang kelebihan harta akan menyalurakan sebagian haratanya kepada yang membutuhkan. Suatu negeri akan terbantukan dalam mensejahterakan rakyatnya dengan manifestasi perilaku ta’awun.Olehnya itu, Sikap ta’awun harus menjadi sikap fundamental dalam setiap diri manusia.

Sikap ta’awun dalam islam akan menjadi sebab pertolongan Allah akan turun, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadisnya yang artinya:

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”

Demikianlah Islam mengatur hubungan antar sesama manusia, dengan pola interaksi yang mengedepankan nilai-nilai luhur, sehingga terlahir relasi yang baik dan harmonis.Dalam kesempatan lain, Nabi bahkan mengatakan bahwa tidaklah dikatakan beriman orang yang tidur dalam kondisi kenyang, sementara tetangganya kelaparan (HR Ath-Thabrani). Dengan kata lain, kemiskinan adalah tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

Kaum miskin harus diprioritaskan untuk ditangani dengan baik. Jika kaum muslim dan manusia pada umumnya bersatu dan bersama-sama peduli kaum miskin, sangat mungkin angka kemiskinan akan turun drastis. Sudah sebaiknya sebagai warga negara Indonesia harus menjadi satu, saling bahu membahu, saling membantu, saling peduli, tanpa pamrih dan memandang dahulu, apa agamamu, apa ras mu, dari mana kamu berasal.

Selama kita menjadi warga negara Indonesia,ini berarti kita masih satu, kita masihlah saudara. Ingatlah bagaimana para pahlawan kita bersatu menjadi Indonesia untuk melawan penjajahan.

Bagaimana susah nya mereka berjuang? Sesusah apapun perjuangan mereka, mereka tetap saling membantu satu sama lain. Dikarenakan rasa persaudaraan mereka yang erat yang menyebabkan mereka merasa mereka harus menjaga saudaranya, dan juga itu merupakan suatu kewajiban bagi mereka untuk membantu saudaranya.

Jadi mari kita menjadi warga negara yang saling peduli, menolong dan perhatian terhadap saudara sebangsa.Harapan dan cita-cita kita bersama akan mudah tercapai dengan membudayakan perilaku ta’awun yang akan membuat pekerjaan susah menjadi mudah, mempererat tali persaudaraan, menumbuhkan kerukunan dan melahirkan kehidupan masyarakat yang sejahterah.

Mudah-mudahkan kita semua senantiasa mengamalakan amalan yang mulia ini dalam kehidupan dengan istiqomah.

More in Portal User

To Top