Connect with us

Usai Hari Raya, Saatnya Demokrasi dan Khilafah saling memaafkan.

images-8

Portal User

Usai Hari Raya, Saatnya Demokrasi dan Khilafah saling memaafkan.

“Pesta telah selesai, tapi legitimasi pemilu ini masih panjang bahkan melampaui tanggal 22 Mei. Ibarat meja pesta yang telah dirapikan, tiba tiba orang lihat dibawah meja yang terlihat amat berantakan, ada tulang dan semacamnya” Kalimat itulah yang sempat dilontarkan oleh Prof. akal sehat Rocky gerung dalam acara Talk Show yang bertajuk Catatan Demokrasi Kita (7 mei 2019).

Kalau kita cermati, Memang benar apa yang dikatakan oleh tokoh yang sedang naik daun dikanca Politik ini, bahkan tanpanya dalam beberapa acara tv yang bertajuk politik dikenal dengan istilah No Rocky no Party.

Bukankah pesta Demokrasi yang telah usai pada tanggal 17 April bahkan hasilnya pun yang telah diumumkan (selasa 21 mei) tepatnya sekitaran pukul 01 lewat yang mungkin para tokoh tokoh penting saat itu habis Tahajud dan Dzikir panjang.

Rupanya bukanlah garis akhir seperti yang diidam idamkan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia, malah menyisahkan tanda tanya yang kian besar hingga otak pun tak habis habisnya berpikir tentang dimana Garis Finish yang disimpan politik hingga semuanya masih jalan ditempat?

Lantas siapakah dalang dari semua ini?

Demokrasi or Khilafah?

Mungkin masih berbekas diingatan kita mengenai pernyataan Bapak Wiranto di Grand Pragon Jakarta kamis (16 mei), yang menyatakan bahwa “Yang baru kemarin kita bubarkan, kita akan dijadikan Negeri Khilafah, ada. Tidak akui nasionalisme, tidak akui pancasila, NKRI, kita bubarkan. Tapi sekarang masih bonceng lagi dalam Keruwetan pemilu kita, ada”.

Dari ucapan Beliau mengandung makna bahwa Khilafah adalah salah satu pihak yang mengakibatkan berbagai perhelatan yang terjadi. Hingga Khilafah kembali lagi disudutkan dan dijadikan sebagai kambing Hitam, so wajar jika opini opini para pendukung khilafah diluaran sana kembali berkoar,

“Demokrasi adalah penyebab dari berbagai masalah hingga solusi tunggalnya hanyalah Khilafah tidak lebih” Bahkan dalam salah satu opini menyatakan bahwa jika Demokrasi masih bertahan sampai beberapa tahun kedepan jelas indonesia akan mengalami kebangkrutan terlebih jika masih dipimpin oleh Presiden yang dzalim.

Demokrasi dan Khilafah, yakni dua sistem pemerintahan yang sampai sekarang masih saja senang beradu argumen. Demokrasi adalah satu satunya sistem pemerintahan yang cocok dengan Indonesia, karena ditengah perbedaan yang begitu nampak maka jalan yang bisa menyatukan rakyat adalah Demokrasi,

bahkan Mantan ketua partai Golkar, Jusuf Kalla mengakui bahwasanya demokrasi memang bukanlah sistem yang baik, namun hanya sistem yang minim masalah” ujarnya dalam acara yang bertajuk Simposium kebangsaan refleksi nasional Praktik konstitusi dan ketenagakerjaan pasca reformasi

Namun apakah dengan anggapan ini, maka pendukung setia Khilafah hanya tinggal diam dan setuju bahwa sistem Demokrasi memang pantas di Negara ini? jelas tidak, mereka malah beranggapan bahwa ditengah kericuhan yang kian memuncak bahkan mengalahkan kericuhan orde baru tidak lain karena sistem Demokrasi.

Dan sekarang saatnya Khilafah adalah solusinya, menyelesaikan masalah tanpa masalah! Mengapa mesti sistem khilafah? Dalilnya ya karena memang khilafah adalah sistem yang paling baik, sistem yang asal muasalnya dari Rasulullah dan perihal ini telah dibuktikan oleh beberapa negara yang salah satunya ialah anggapan Mantan Biarawati keren Amstrong yanga amat memuji sistem Khilafah begitupun dengan Thomas Walker Arnold yakni sejarawan Kristen yang mengakui kedamaian kehidupan beragama dalam Negara Khilafah.

Lantas kita harus membela siapa?

Dalam Islam Sendiri tidak disebutkan dalam sebuah ayat ataupun hadits mengenai sistem negara yang pantas di terapkan dalam bernegara. Beberapa term Khalifah memang sering hadir di beberapa ayat namun pada term Khalifah itu sendiri  sama sekali tidak mengandung makna politik yang mengharuskan sistem pemerintahan berupa Khilafah.

Melainkan Islam hanya menekankan bahwasanya seorang pemimpin harusnya yang Adil, Jujur, Musyawarah, Amanah dan bertanggung jawab. Memang iya, Khilafah adalah sistem yang begitu indah, bukankah didalamnya menerapkan hukum hukum yang berlandaskan Islam? Namun bukan berarti sistem Demokrasi dianggap tidak pantas dan tidak Islami?

Mungkin sedikit lucu, jika sebagai warga Negara hanya terus mengabiskan waktu dengan menyalahkan sistem pemerintahan yang ada dan mencatat opini opini indah dan pada akhirnya menjadi sumber kericuhan. Namun mengapa kita tidak pernah berpikir bahwa sebenarnya masalah timbul dari diri manusia, lantas mengapa harus menyalahkan sistemnya?

Ibarat segelas racun yang telah membunuh banyak jiwa, maka jangan salahkan gelasnya! Namun cobalah tengok siapa yang meracik isi dari gelas tersebut? Barangkali disana ada tangan tangan kotor dengan niat yang jauh lebih kotor lagi. hingga pada akhirnya? Banyak yang terbunuh hanya karena aksi manusianya, bukan dari alat ataupun sistemnya.

Kita harus bagaimana?

Mengingat Hari Raya Idul Fitri yang telah usai dimana sebagai Umat Muslim sangat membudidayakan saling meminta maaf dan memaafkan setelah melaksakan Sholat Ied, maka sepantasnya kita pun saling membenahi diri. Jikalau kita adalah rakyat biasa maka selayaknya kita berusaha untuk menjadi rakyat yang baik, rakyat yang tidak menuntut banyak hal hingga sedikit kesalahan saja maka tak segan segan menyalahkan pemerintah yang pun merupakan Manusia Biasa.

Dan jikalau kita adalah seorang pejabat bahkan pemimpin maka selayaknya kita pun mengintropeksi diri dan membenahi diri untuk menjadi pemimpin yang baik, bukan malah menjadi memimpin yang mengedepankan nafsu dan melupakan Amanah. Karena dalam membentuk negara yang baik dan penuh kedamaian adalah berasal dari pemimpin dan rakyat yang sama sama baik. Bukankah setiap pasangan selalu mencerminkan sikap dari pasangan itu sendiri?

Maka wajar jika dalam Firmannya, Allah Mengatakan

Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik” (QS. An-Nur [24]: 26). Ayat ini cukup menjadi gambaran bahwasanya Allah selalu memasangkan yang baik dengan yang baik, jikalau saat ini kita merasa bahwa Pemimpin kita adalah pemimpin yang Dzalim, lalai bahkan Kafir cobalah tengok diri kita sebagai Rakyat, jangan jangan Allah mempertemukan antara Pemimpin yang Dzalim dengan Rakyat yang Dzalim *Naudzubillah,

Sedangkan antara Demokrasi dan Khilafah? Tenang, kalian berdua adalah sistem pemerintahan yang indah. Maka tak perlu dipungkiri lagi akan bagaimana amannya Negara jikalau kalian diterapkan sesuai dengan Teori yang ada, untuknya kalian tidak perlu saling bermusuhan hanya karena opini opini diluaran sana yang selalu saja menyudutkan dan mempertengkarkan nama kalian.

Mengenai kerusuhan dan perhelatan, itu karena manusianya, untuknya saling memaafkanlah mumpung hari Raya Idul Fitri yang dijadikan sebagai Momentum untuk saling Memaafkan, saling mengunjungilah dan berpelukan, dengan harap Negara kita akan damai karena rakyat dan pemimpinnya yang kini telah saling membenahi diri.

So, sebelum meminta sistemnya dibenahi, alangkah baiknya jika para manusianya yang terlebih dahulu unjuk pembenahan diri. Barangkali hadir  kesalahan yang berkoar di dalam hati dan pikiran dari manusia itu sendiri.

*Semoga

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Portal User

To Top